Daerah

Mahasiswi UNISBA Suarakan Isu Pajak Pembalut dan Ekonomi

KORAN MANDALA – Aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Islam Bandung (UNISBA) di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Senin (2/11/2026) sore, menghadirkan beragam aspirasi.

Salah satunya datang dari Nabila Fitriani(20), mahasiswi Fakultas Dakwah UNISBA angkatan 2024 yang menyoroti persoalan pajak pembalut dan kondisi ekonomi masyarakat.

Di tengah orasi mahasiswa lainnya yang banyak menyoroti persoalan kepemimpinan, Nabila justru mengangkat isu pajak pembalut yang kembali menjadi perbincangan publik.

Ia menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena pembalut merupakan kebutuhan dasar perempuan yang digunakan secara rutin.

Menurut Nabila, meskipun kebijakan terkait pajak pembalut telah ditetapkan sejak lama, persoalan tersebut masih relevan untuk dipertanyakan dan disuarakan kepada pemerintah.

Ia pun memanfaatkan momentum aksi unjuk rasa tersebut untuk menyampaikan keresahannya sekaligus mewakili suara perempuan lainnya.

“Kenapa pembalut? Padahal kan sebenarnya diresmikannya itu bahkan sudah lama. Tapi satu pertanyaan saya yang dibalikan lagi, kapan kita bisa menyuarakan hal-hal ini selain di tempat yang seperti ini? Memang kalau semisal kita langsung menyuarakan kan susah sebenarnya. Ini tempatnya dan wadahnya untuk kita sekarang menyuarakan,” ujar Nabila saat di wawancarai koran mandala. Senin (2/11/2026)

Selain persoalan pajak pembalut, Nabila juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat yang menurutnya semakin sulit. Ia mengaku turut merasakan dampaknya sebagai mahasiswa, terutama ketika melihat perjuangan keluarganya dalam memenuhi kebutuhan pendidikan.

“Kakak-kakak dan orang tua saya harus berjuang demi mencari pundi-pundi uang untuk adiknya tuh terus bersekolah dan keuangan itu kan sulit,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa UNISBA sekaligus Koordinator Aksi, Feri Anwar Musaddad, mengungkapkan bahwa aksi tersebut digelar sebagai bentuk penyampaian aspirasi sekaligus tindak lanjut dari aksi sejumlah mahasiswa berbagai kampus di Kota Bandung beberapa waktu lalu.

Sebelum menggelar aksi, mahasiswa telah melakukan konsolidasi dan kajian isu pada Jumat (30/10/2026). Hasil kajian tersebut menjadi dasar penyusunan tuntutan yang disampaikan dalam aksi hari ini.

Salah satu poin utama tuntutan mahasiswa berkaitan dengan perubahan secara menyeluruh serta perubahan paradigma masyarakat terhadap kepemimpinan negara.

“Kami melihat ada persoalan dalam paradigma masyarakat mengenai kepemimpinan. Saat ini, kepemimpinan seolah-olah hanya dianggap sebagai pekerjaan, bukan sebuah tanggung jawab. Padahal, seorang pemimpin seharusnya memahami bahwa jabatan merupakan amanah dan tanggung jawab kepada masyarakat,” tutur Feri saat diwawancarai di sela-sela aksi.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak akan selesai hanya melalui perubahan parsial, melainkan membutuhkan perubahan menyeluruh di seluruh aspek pemerintahan.

Lebih lanjut, Feri menegaskan bahwa mahasiswa UNISBA akan tetap konsisten menyuarakan keresahan dan aspirasi masyarakat kepada pemerintah.

Sebagai tindak lanjut dari aksi tersebut, mahasiswa UNISBA berencana kembali menggelar konsolidasi dan mengajak seluruh elemen mahasiswa serta masyarakat untuk bergerak bersama.

“Kami ingin masyarakat mendengar bahwa sampai hari ini masih banyak rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan akses pendidikan secara layak. Persoalan-persoalan seperti itu yang ingin kami suarakan,” tandasnya.

Share