KORAN MANDALA – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bandung Barat pada Minggu (27/9/2026) malam memicu banjir luapan di Kampung Barukai, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua.
Sebanyak 15 rumah warga terdampak setelah aliran air bercampur lumpur dan material bebatuan menerjang permukiman.
Banjir terjadi setelah tembok penahan tanah (TPT) yang berada di belakang permukiman warga jebol akibat tidak mampu menahan derasnya aliran air. Material lumpur dan batu kemudian terbawa masuk ke kawasan rumah warga.
Banjir Bandung Butuh Rp800 Miliar, Pemkot Akui Tak Sanggup Andalkan APBD
Kondisi tersebut sempat menyulitkan warga untuk menyelamatkan diri dan barang-barang mereka. Petugas gabungan bersama relawan pun melakukan evakuasi terhadap seorang lansia, Sumarni (60), yang saat kejadian tengah dalam kondisi sakit.
Sumarni dievakuasi menggunakan tandu menuju lokasi yang lebih aman untuk mendapatkan penanganan dan tempat perlindungan sementara.
Namun, warga menilai banjir yang terjadi tidak semata-mata berkaitan dengan tingginya curah hujan. Mereka menyoroti kondisi aliran sungai yang disebut mengalami pendangkalan dan penyumbatan di sejumlah titik.
Warga meminta pemerintah segera melakukan normalisasi aliran sungai dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko banjir kembali terjadi ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
“Solusinya saya minta dinormalisasikan lagi sepanjang kurang lebih delapan kilometer. Dari hulu sampai hilir, ini akan menyelesaikan masalah,” ujar seorang warga di lokasi.
Menurut warga tersebut, salah satu titik penyumbatan terparah berada di kawasan Coblong. Di lokasi itu, konstruksi gorong-gorong lama disebut tertimbun material batu akibat kerusakan dan runtuhan.
“Penyumbatannya di Coblong sekitar 400 meter dan itu harus digali dengan alat berat karena sudah roboh semua, sudah tertutup oleh batu-batu yang semula gorong-gorong itu,” katanya.
Persoalan tersebut membuat kapasitas aliran air dinilai tidak lagi mampu menampung debit saat hujan dengan intensitas tinggi. Ketika aliran tersumbat, air kemudian meluap dan mencari jalur ke kawasan permukiman.
Memasuki Senin (28/9/2026) pagi, warga bersama petugas masih membersihkan lumpur, bebatuan, dan sampah yang terbawa banjir dari sekitar rumah mereka.
Warga kini menunggu penanganan lebih lanjut dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, termasuk pengerahan alat berat untuk membersihkan material yang menyumbat aliran air.
Banjir di Kampung Barukai kembali menempatkan persoalan drainase dan kondisi aliran sungai sebagai perhatian.
Warga berharap penanganan tidak hanya dilakukan setelah banjir terjadi, tetapi dilanjutkan dengan pembenahan aliran dari hulu hingga hilir untuk mengurangi risiko kejadian serupa.
