KORAN MANDALA –Di tangan warga Plered, Kabupaten Purwakarta, tanah liat bukan sekadar material yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Bahan sederhana itu diolah menjadi genteng yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat.
Dari proses mengolah tanah, mencetak, menjemur, membakar hingga mendistribusikan genteng, terdapat rantai ekonomi yang melibatkan banyak warga.
Harga Pangan Jadi Tekanan, Purwakarta Tak Mau Ekonomi Ikut Melambat
Kini, produk lokal tersebut tengah disiapkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta bersama pemerintah pusat tengah mempersiapkan agenda peluncuran genteng Plered yang melibatkan para pengrajin lokal.
Persiapan agenda tersebut dibahas Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein bersama Sekretaris Daerah Purwakarta Sri Jaya Midan melalui rapat koordinasi secara virtual, Selasa (8/9/2026).
Pembahasan tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan acara. Pemerintah juga memastikan berbagai kebutuhan teknis, mulai dari mekanisme pengiriman produk, kemasan, kesiapan lokasi hingga koordinasi dengan pihak terkait.
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein mengatakan potensi industri genteng Plered harus mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
“Kita ingin genteng Plered ini tidak hanya dikenal sebagai produk daerah, tapi juga bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Di dalamnya ada pengrajin, pekerja dan pelaku usaha yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan ini,” ujar Saepul.
Menurutnya, semakin luas pasar yang dapat dijangkau produk lokal, semakin besar pula peluang ekonomi yang terbuka bagi masyarakat yang terlibat dalam proses produksinya.
Karena itu, pemerintah daerah terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak. Salah satu fokusnya adalah memastikan kesiapan para pengrajin apabila permintaan terhadap genteng Plered meningkat setelah produk tersebut dipasarkan lebih luas.
Sekretaris Daerah Purwakarta Sri Jaya Midan mengatakan kesiapan di lapangan menjadi bagian penting yang harus diperhatikan sebelum agenda tersebut dilaksanakan.
Pemerintah, kata dia, akan melakukan survei langsung untuk melihat kondisi lokasi dan mengidentifikasi kebutuhan teknis yang masih harus dipersiapkan.
“Kita akan cek langsung ke lapangan supaya kebutuhan teknisnya bisa terlihat dengan jelas. Jangan sampai ketika pelaksanaan sudah berjalan, masih ada hal-hal yang belum siap,” kata Sri Jaya.
Bagi masyarakat Plered, genteng memiliki nilai lebih dari sekadar material bangunan. Produk tersebut merupakan hasil keterampilan yang diwariskan dan dikembangkan masyarakat dalam mengolah tanah liat menjadi barang bernilai ekonomi.
Karena itu, rencana peluncuran genteng Plered diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat posisi produk lokal sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi para pengrajin.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta masih akan melanjutkan persiapan bersama pihak terkait. Survei lapangan menjadi salah satu tahapan berikutnya untuk memastikan lokasi, mekanisme pelaksanaan dan kebutuhan teknis telah siap.
Jika pasar semakin terbuka dan penyerapan produk meningkat, dampaknya diharapkan tidak berhenti pada pengrajin.
Perputaran ekonomi juga berpotensi dirasakan pekerja, pemasok bahan, pelaku distribusi hingga usaha masyarakat yang tumbuh di sekitar sentra produksi.
Sebab bagi warga Plered, tanah liat bukan sekadar bahan untuk membuat genteng. Dari tanah itulah lahir produk lokal, pekerjaan dan sumber penghasilan yang menghidupi masyarakat.
