ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA –Suara riuh mulai terdengar dari Pamidangan Kidang Pananjung, Desa Parakan Garokgek, Kecamatan Kiarapedes, Purwakarta. Ratusan domba dari berbagai daerah di Jawa Barat berkumpul, bukan sekadar untuk dipertontonkan, tetapi untuk menunjukkan kualitas sekaligus membuka ruang pertemuan bagi para peternak.
Sekitar 600 ekor domba tercatat mendaftar sejak malam sebelum pelaksanaan Semi Kontes Domba se-Jawa Barat. Namun karena keterbatasan waktu, hanya 340 ekor atau 170 pasang yang akhirnya lolos seleksi untuk mengikuti ajang tersebut.
Di tengah ramainya kontes, ada geliat ekonomi lain yang ikut bergerak. Kedatangan peternak dan peserta dari berbagai daerah membuat aktivitas di sekitar lokasi turut meningkat. Pedagang kecil dan pelaku UMKM mendapat kesempatan menjajakan dagangannya kepada para peserta maupun pengunjung yang datang.
ADVERTISEMENT
Sanitasi Masih Jadi Masalah di Antapani, DPRD Bandung Dorong Penanganan Berbasis RW
Bagi DPC Himpunan Peternakan Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Kabupaten Purwakarta, geliat tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sektor peternakan tidak bisa hanya dilihat dari jumlah hewan yang dipelihara. Di balik usaha beternak terdapat mata pencaharian, perdagangan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat yang ikut bergantung pada ramainya sektor tersebut.
Momentum kontes sekaligus menjadi penanda dimulainya kepengurusan baru DPC HPDKI Purwakarta. Luthfi Bamala resmi dilantik sebagai ketua oleh Ketua DPD HPDKI Jawa Barat, Deni Mulyadi.
Luthfi membawa salah satu target utama, yakni mendorong peternak Purwakarta agar mampu menghasilkan bibit-bibit unggul. Menurutnya, peningkatan kualitas ternak penting agar peternak lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mempunyai daya saing lebih luas.
“Kami berharap peternak domba dan kambing di Purwakarta semakin bersemangat melahirkan bibit-bibit unggul agar mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia,” ujar Luthfi.
Dorongan terhadap bibit unggul tersebut juga berkaitan erat dengan masa depan ekonomi peternak. Semakin baik kualitas ternak yang dihasilkan, semakin besar pula peluang peternak memperoleh nilai ekonomi dari hasil budidayanya.
Luthfi melihat kegiatan seperti kontes juga memiliki efek lain yang tidak kalah penting. Ketika peternak dari berbagai daerah datang, aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi ikut mendapatkan dampaknya.
“Selain itu, kegiatan ini terbukti menghidupkan roda ekonomi grassroots dan UMKM pedagang kecil di sekitar lokasi,” katanya.
Potensi tersebut membuat sektor domba dan kambing dinilai memiliki ruang pengembangan yang cukup besar di Jawa Barat. Ketua DPD HPDKI Jawa Barat, Deni Mulyadi, menyebut populasi domba di Jawa Barat mencapai sekitar 2,3 juta ekor.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi yang dimiliki Jawa Barat. Namun, jumlah populasi saja belum cukup untuk memastikan peternak memperoleh keuntungan yang optimal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Deni mengatakan pengembangan peternakan perlu berjalan beriringan dengan kekuatan budaya yang selama ini melekat pada domba di Jawa Barat. Seni ketangkasan domba Garut, misalnya, telah menjadi bagian dari tradisi yang kuat dan memiliki daya tarik tersendiri.
Namun di sisi lain, sektor budidaya untuk kebutuhan konsumsi juga perlu diperkuat. Domba dan kambing tidak hanya memiliki nilai dalam kegiatan seni dan budaya, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pangan dan protein bagi masyarakat.
Produk turunannya pun masih memiliki ruang untuk dikembangkan, salah satunya susu kambing. Penguatan sektor budidaya dan pengolahan hasil ternak dinilai penting agar nilai ekonomi yang dihasilkan tidak berhenti pada penjualan hewan hidup.
Tantangan lainnya datang dari persaingan antarwilayah. Peternak Jawa Barat perlu menjaga efisiensi agar biaya produksi tidak terlalu tinggi dibandingkan daerah lain seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Karena itu, HPDKI Jawa Barat mendorong adanya inovasi dalam menekan biaya produksi. Efisiensi diharapkan dapat memperbesar margin keuntungan peternak sehingga usaha beternak tetap menarik dan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Dari sebuah arena kontes, persoalan tersebut akhirnya kembali pada satu hal: bagaimana domba bisa memberikan nilai yang lebih besar bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor peternakan.
Ketika kualitas bibit meningkat, produksi berkembang, biaya dapat ditekan dan hasil ternak memiliki pasar yang lebih luas, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh peternak. Pedagang, pelaku UMKM, hingga masyarakat yang terlibat dalam rantai ekonomi peternakan pun berpotensi ikut merasakan perputarannya.
Melalui kepengurusan baru di Purwakarta, HPDKI ingin menjadikan sektor domba dan kambing bukan sekadar aktivitas beternak maupun ajang kontes. Lebih jauh, sektor ini diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat dan membuka peluang kesejahteraan bagi peternak serta pelaku usaha kecil di sekitarnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






