ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Revitalisasi kawasan Gasibu yang baru saja rampung kembali memerlukan pengerjaan. Kali ini, bagian jalur pedestrian di titik penyeberangan mulai dibongkar setelah persoalan perbedaan ketinggian trotoar menjadi perhatian masyarakat.
Pantauan Koran Mandala, Rabu, (2/9/2026), sejumlah bata pada bagian trotoar mulai dibongkar. Pembongkaran terlihat di area yang menghubungkan jalur pedestrian dengan zebra cross.
Kondisi tersebut membuat sebagian kawasan Gasibu sementara tidak dapat digunakan sebagaimana biasanya.
Sejumlah warga yang datang terlihat berolahraga diluar area kawasan Gasibu. Namun, Sebagian warga terpaksa membatalkan aktivitasnya karena tidak mengetahui adanya penutupan.
Salah seorang warga, Linda (24), mengaku datang seorang diri ke kawasan Gasibu untuk berlari. Namun, ia memilih pulang setelah mendapat informasi dari petugas keamanan bahwa kawasan tersebut sedang ditutup.
”Awalnya saya ke sini mau lari. Terus kata satpam, ini ditutup. Kurang tahu sampai kapan. Katanya sih dibukanya 2027 kalau lihat di pamflet,” ujar Linda kepada Koran Mandala. Rabu (2/9/2026)
Sebelumnya kawasan Gasibu telah kembali dibuka setelah proses revitalisasi dan bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Ia berharap proses penataan kawasan tersebut dapat segera diselesaikan secara optimal. Menurutnya, sebagai ruang publik, kawasan Gasibu seharusnya memberikan kenyamanan bagi masyarakat dan tidak mengalami penutupan berulang kali akibat perbaikan.
”Harapannya bisa dibuka dan tidak tutup-buka terus. Sekali revitalisasi bisa dioptimalkan, apalagi ini ruang publik juga dan harus mementingkan fasilitas serta kenyamanan,” katanya.
Sempat Viral karena Trotoar Terlalu Tinggi
Sebelumnya, trotoar baru di kawasan Gasibu ramai menjadi sorotan masyarakat. Sejumlah pejalan kaki mengeluhkan ketinggian trotoar yang dinilai tidak ideal bagi mobilitas masyarakat.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM, sebelumnya juga mengakui terdapat bagian trotoar di kawasan Gasibu yang terlalu tinggi, khususnya pada akses dari arah Monumen Perjuangan menuju Gasibu.
”Mengenai zebra cross yang dari arah Monju ke Gasibu, itu saya melihat memang terlalu tinggi,” kata KDM.
KDM mengatakan telah meminta jajaran Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Jawa Barat untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi tersebut.
”Saya sudah meminta Kepala PU untuk melakukan evaluasi dengan membuat undakan, sehingga naiknya ada trap-nya, tidak langsung dari jalan raya ke trotoar,” ujarnya.
Selain persoalan elevasi, KDM juga meminta agar aksesibilitas bagi penyandang disabilitas menjadi perhatian dalam penataan kawasan Gasibu.
”Dan dibuatkan jalur untuk penyandang disabilitas, dengan satu catatan bahwa trotoar itu untuk pejalan kaki, bukan untuk pedagang, bukan untuk pemotor maupun yang lainnya,” tandasnya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






