ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Pengelolaan alat dan mesin pertanian tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan teknologi. Kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam mengatur usaha, menyusun pembukuan hingga menjaga akuntabilitas keuangan menjadi faktor penting bagi keberlangsungan Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA).
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Insan Cendikia Mandiri (UICM) Bandung bersama Dinas Pertanian Kabupaten Bandung memberikan penguatan kapasitas kepada para pengelola UPJA.
Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) tersebut digelar di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, Rabu, 2 September 2026.
ADVERTISEMENT
Kepala UPTD Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Indah Yuliana, mengatakan saat ini terdapat 42 UPJA yang tersebar di 31 kecamatan di Kabupaten Bandung.
Menurutnya, keberadaan puluhan UPJA tersebut membutuhkan pembinaan manajemen yang kuat. Terlebih, karakteristik komoditas pertanian di Kabupaten Bandung cukup beragam, mulai dari tanaman pangan, hortikultura hingga perkebunan.
“Manajemen itu krusial, bukan hanya untuk usaha tetapi juga rumah tangga. Apalagi ini lembaga usaha, pembukuan dan manajerialnya harus jelas. Evaluasi tiga bulan terakhir menunjukkan masih banyak kekurangan di lapangan. Kehadiran akademisi melalui kerja sama ini sangat membantu kami di tengah keterbatasan anggaran pembinaan,” ujar Indah di sela kegiatan PKM. Rabu (2/9/2026)
Indah menambahkan, tata kelola yang baik juga dapat membuka peluang lebih besar bagi petani maupun pengelola UPJA untuk mendapatkan akses permodalan. Pihaknya kini mendorong kemudahan akses kredit, salah satunya melalui skema yarnen atau bayar setelah panen.
Skema tersebut diharapkan dapat membantu pengelola UPJA dan kelompok tani memenuhi kebutuhan alat dan mesin pertanian tanpa harus terbebani pembayaran rutin setiap minggu maupun bulan.
Sementara itu, Wakil Rektor II UICM Bandung, Agus Ismail, mengatakan kegiatan PKM tersebut merupakan bentuk komitmen perguruan tinggi untuk terjun langsung dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi institusi yang berada di balik konsep “menara gading”.
“Prinsip pengabdian ini menyasar tiga pilar utama: people (SDM), process (proses), dan technology (teknologi). Teknologi alsintan sudah disiapkan oleh dinas, maka tugas kami adalah membekali people-nya. Tanpa SDM yang paham manajerial dan pembukuan, potensi usaha tidak akan maksimal,” kata Agus.
Ia menjelaskan, dasar-dasar manajerial perlu dipahami dan diterapkan secara disiplin oleh para pengurus UPJA maupun pelaku usaha mikro.
Konsep tersebut mencakup planning, organizing, actuating dan controlling atau POAC. Selain itu, kemampuan membangun komunikasi yang efektif juga dinilai penting dalam menjalankan sebuah usaha.
Agus menilai persoalan pencatatan keuangan masih menjadi kendala mendasar yang membuat sejumlah usaha mikro maupun kelompok tani sulit berkembang.
“Banyak pelaku usaha mikro atau kelompok tani yang sulit berkembang dan ditolak saat mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) karena tidak akuntabel. Pencatatan keuangan masih menyatu dengan pribadi dan tidak ada cash flow yang jelas. Ini yang ingin kita benahi bersama secara berkelanjutan,” tuturnya.
Melalui kolaborasi antara UICM Bandung dan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, para pengelola UPJA diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam mengelola organisasi dan keuangan usaha.
Penguatan kapasitas tersebut juga diharapkan mampu mendorong UPJA di Kabupaten Bandung menjadi lebih profesional, mandiri dan akuntabel dalam mendukung sektor pertanian serta ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






