ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA –Kabupaten Purwakarta menjadi daerah dengan persentase perokok usia 15–24 tahun tertinggi di Jawa Barat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat 2025, persentase perokok muda di Purwakarta mencapai 18,06 persen.
Angka tersebut menempatkan Purwakarta di posisi pertama dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Jawa Barat. Artinya, hampir dua dari setiap sepuluh penduduk usia 15–24 tahun di Purwakarta tercatat merokok dalam satu bulan terakhir.
Purwakarta berada di atas Kabupaten Cianjur yang mencatat 17,30 persen, disusul Kabupaten Bogor 17,03 persen, Kabupaten Garut 15,99 persen, serta Kota Bogor 15,80 persen.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, lima daerah lainnya yang masuk dalam 10 besar persentase perokok usia muda di Jawa Barat yaitu:
– Kota Tasikmalaya : 15,68 persen
– Kabupaten Sukabumi : 15,48 persen
– Kabupaten Bekasi : 15,36 persen
– Kota Sukabumi : 15,17 persen
– Kota Cimahi : 15,06 persen

Tingginya angka tersebut menjadi perhatian karena kelompok usia 15–24 tahun merupakan masa produktif bagi generasi muda. Pada rentang usia tersebut, mereka umumnya sedang menempuh pendidikan, memasuki dunia kerja, maupun mengembangkan potensi diri.
Fenomena merokok di kalangan anak muda juga tidak hanya berkaitan dengan persoalan kesehatan. Faktor lingkungan pergaulan, keluarga, budaya, hingga kemudahan akses terhadap rokok dapat turut memengaruhi kebiasaan tersebut.
Sebagian remaja dapat mengenal rokok dari lingkungan pertemanan, rasa ingin tahu, maupun keinginan untuk terlihat lebih dewasa. Jika kebiasaan tersebut terus berlangsung, rokok berpotensi menjadi ketergantungan yang sulit dihentikan.
Data BPS tersebut sekaligus menjadi pengingat perlunya upaya bersama untuk menekan angka perokok usia muda di Purwakarta. Pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran dalam memberikan edukasi serta menciptakan lingkungan yang mendukung pola hidup sehat.
Posisi Purwakarta sebagai daerah dengan persentase perokok muda tertinggi di Jawa Barat menjadi alarm yang perlu mendapat perhatian. Terlebih, kualitas generasi muda menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi bonus demografi dan pembangunan daerah di masa mendatang.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






