KORAN MANDALA – Aroma masakan Padang masih tercium dari sebuah lapak sederhana berukuran sekitar 2×4 meter di kawasan Terminal Cicaheum,Kota Bandung,Selasa (25/8/2026).
Nur (61), atau yang akrab disapa Uni, sibuk merapikan barang-barang dagangannya. Etalase, peralatan makan, hingga barang-barang yang selama puluhan tahun menemaninya mencari nafkah perlahan dikemas.
Lapaknya menjadi salah satu yang tersisa setelah deretan kios di Terminal Cicaheum mulai dibongkar untuk pembangunan depo Bandung Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.
Bagi Nur, lapak sederhana itu bukan sekadar tempat berjualan. Sejak 1994, tempat tersebut menjadi sumber penghidupannya.
“Saya disini dari tahun sembilan empat (1994), Dek, dagang nasi Padang. Sudah lebih dari 30 tahun” ujar Nur saat ditemui di lapaknya Selasa (25/8/2026)
Sebelum pandemi Covid-19, kehidupan Nur sebagai penjual nasi Padang terbilang cukup baik. Dalam sehari, ia mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp1,5 juta.
“Jam 6 pagi sampai jam 6 lagi, Dek, sudah bisa mendapat Rp1,5 juta” kenangnya.
Namun pandemi mengubah keadaan. Aktivitas di terminal berhenti, jalan-jalan ditutup dan penumpang menghilang. Nur pun tidak bisa berjualan seperti biasa.
“Sejak Corona hancur, Dek. Sejak Corona. Habis Corona tuh…” ujarnya.
Setelah pandemi berlalu dan ia kembali berjualan, kondisi tak kunjung pulih seperti sebelumnya. Pembeli semakin sepi dan dagangannya tidak banyak terjual.
“Boro-boro satu juta, seratus ribu aja susah, Dek. Susah. Sekarang nggak laku nasi, sekarang dua piring laku nasinya, Dek,” katanya.
Menolak, tetapi Akhirnya Harus Pergi
Ketika rencana perubahan fungsi Terminal Cicaheum mencuat, Nur bersama pedagang lainnya sempat melakukan penolakan. Ia mengaku tidak ingin meninggalkan tempat yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan.
“Ia kami tentu para pedagang Menolak semua,Pemerintah lebih keras dari kita. Kita kan cuman rakyat, ga bisa apa – apa ,” ujar Nur.
Pantauan Koran Mandala Siang hari, Hanya satu lapak Kios yang masih bertahan di tengah kios lainnya yang sudah melakukan pembongkaran secara mandiri, Nur pun memastikan dirinya akan mulai pindah pada sore hari bersama mobil pengangkut.
”Nanti dibongkarnya, beres beres dulu Sekitar jam 16.00 WIB mau pindahan,” ungkapnya
Hari itu, barang-barang di lapaknya mulai dibereskan. Lapak yang selama ini menjadi tempatnya memasak dan melayani pembeli akan segera ditinggalkan.
Kompensasi Ada, tetapi Bukan Jaminan Kehidupan
Para pedagang terdampak pembongkaran mendapatkan kompensasi dengan nominal yang berbeda-beda.
Nur menyebut ada pedagang yang menerima Rp7 juta, Rp11 juta, Rp20 juta hingga Rp30 juta.
“Ada yang 7 juta, ada yang 11 juta, ada yang 20 juta, ada 30 juta. Macam-macam, Dek,” katanya.
Nur sendiri mengaku telah menerima kompensasi tersebut. Uang itu rencananya digunakan untuk menyewa tempat usaha baru di kawasan pasar yang berada di belakang Terminal Cicaheum.
Namun, kepindahan itu bukan tanpa masalah. Tempat yang hendak disewanya belum siap ditempati karena barang-barang milik pemilik warung masih berserakan.
“Ibu udah dibayar warung di belakang, tapi kemarin mau pindah, yang punya warungnya, Dek, nggak diberesin barang-barangnya. Bagaimana kita pindah?” tuturnya.
Kini Nur hanya bisa berharap tempat barunya nanti ramai pembeli.
”nggak tahu laku atau tidak di belakang ibu juga gatau ini” katanya.
Tiga Dekade yang Tak Mudah Dilupakan
Di balik lapak sederhana itu, tersimpan perjalanan hidup Nur sebagai seorang perantau.
Ia pernah merantau ke Jakarta pada era 1990-an. Berbagai pekerjaan dilakoninya untuk bertahan hidup. Penghasilan pertamanya bahkan hanya Rp35 ribu sebelum kemudian meningkat menjadi Rp75 ribu. Dari Jakarta, ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung dan membuka usaha nasi Padang di Terminal Cicaheum.
Air matanya tiba-tiba menetes saat tengah menceritakan ibunya. Sang ibu pernah memintanya untuk pulang ke kampung halaman, sebelum tutup usia pada 2015.
”Sedih, dulu makan sama nasi jagung, berat banget. Ibu pernah minta saya pulang ke kampung, tapi saya bilang nanti, belum bisa pulang. Tahun 2015 [ibu] meninggal,” ucapnya sembari mengelap air mata yang jatuh ke pipinya.
Puluhan tahun berlalu. Nur tumbuh bersama terminal itu. Ia menyaksikan perubahan jalur angkutan, perpindahan pedagang, hingga perubahan wajah kawasan Cicaheum.
“Dulu waktu Ibu dagang, Dek, dulu nggak ada yang dagang, Dek. Ibu sendirian dagang,” ujarnya.
Kini, tempat yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya itu harus ia tinggalkan.
Sebelumnya Terminal Cicaheum sendiri direncanakan dialihfungsikan menjadi depo BRT Bandung Raya. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Bandung, terdapat 115 kios yang berdiri di kawasan tersebut.
layanan bus AKAP dan AKDP dari Cicaheum direncanakan dipindahkan ke Terminal Leuwipanjang. Namun, hingga kini waktu pasti pelaksanaan peralihan masih menunggu sosialisasi dan kepastian dari pemerintah.
