KORAN MANDALA – Rencana pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) di kawasan Terminal Cicaheum membuat para pedagang asongan yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup di terminal harus meninggalkan tempat mereka mencari nafkah.
Salah satunya Pak Iyas (55), pedagang asongan yang telah mencari nafkah di Terminal Cicaheum selama 30 tahun. Ia biasa berdagang asongan seperti, Tissue, Kopi, Rokok dan lainnya.
“Saya disini sudah sekitar 30 tahun, Kalau untuk Intruksi pengosongan sudah mulai ada seminggu. Karena pemerintah itu dari dulu katanya memang dibongkar dan dikosongkan” ujar Iyas Saat ditemui dilokasi Selasa (25/8/2026)
Iyas menyebut pembongkaran tersebut berdampak terhadap ratusan pedagang di kawasan Terminal Cicaheum. Ia memperkirakan sedikitnya 300 pedagang turut terkena dampak.
“Kurang lebih Sekitar 300 orang ini yang jadi terdampak oleh proyek pemerintah,” ungkapnya.
Terima Kompensasi Rp1 Juta
Di tengah pengosongan kawasan, Iyas mengatakan pedagang asongan mendapatkan kompensasi sebesar Rp1 juta per orang. Namun, ia mengaku uang yang diterima bersih oleh pedagang hanya sekitar Rp700 ribu karena terdapat potongan Rp300 ribu.
“Untuk Kompensasi pedagang asongan per orang itu sejuta. Tapi itu kotornya, dibagi-bagi oleh orang orang disini yang sudah memperjuangkan kita untuk mendapatkan kompensasi bersihnya itu diangka Rp700 ribuan,” ujarnya.
Sementara itu, pedagang yang memiliki bangunan mendapatkan kompensasi dengan nominal berbeda, bergantung pada luas bangunan. Menurut Iyas, kompensasi yang diterima pedagang bangunan berkisar Rp10 juta hingga Rp30 juta.
“Bangunannya tergantung per meter. Ada yang luas, ada yang kecil. Kalau yang luas ada mendapatkan Rp30 juta, ada Rp20 juta, ada yang Rp15 juta,” katanya.
Berharap Ada Relokasi
Setelah tidak lagi dapat berjualan di Terminal Cicaheum, Iyas mengaku belum mengetahui secara pasti ke mana dirinya dan pedagang asongan lainnya akan melanjutkan aktivitas mencari nafkah.
Ia menyebut terdapat informasi bahwa pedagang akan diperjuangkan untuk mendapatkan tempat di Terminal Leuwipanjang. Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai relokasi tersebut.
“Kata petugas terminal di sini para pedagang akan di perjuangkan untuk berdagang di Terminal Leuwipanjang. Tapi hingga saat ini masih belum ada kepastian,” ucapnya.
Iyas berharap pemerintah tidak hanya melakukan penertiban, tetapi juga memberikan solusi bagi pedagang kecil yang kehilangan tempat mencari nafkah.
Menurutnya, keberadaan lokasi berjualan sangat penting karena sebagian pedagang memiliki keluarga yang harus dinafkahi setiap hari.
“Kalau saya sebagai rakyat kecil itu, pemerintah harus memperhatikan, lihat-lihat orang-orang yang kecil. Bagaimana mengurusi keluarga, punya anak. Kalau tidak dapat mata pencaharian, bagaimana?” tuturnya.
Setelah tiga dekade mencari rezeki di Terminal Cicaheum, Bagi Iyas, kompensasi yang diberikan pemerintah hanya menjadi solusi sementara. Ia berharap pemerintah tidak berhenti pada pemberian uang, tetapi juga menyiapkan solusi jangka panjang bagi pedagang yang kehilangan tempat berjualan.
“Ia memang ada kompensasi tapi ya namanya uang kan pasti habis, Harus ada solusi panjang yang benar benar bisa menjadi perhatian kepada kami selaku pedagang-pedagang di terminal,” pungkasnya.
