ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Parade Dalang Cilik dan Remaja Wayang Ajen Junior digelar di Villa Wayang Ajen D’Lalamping, RW 05, Kelurahan Sukamelang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang digagas Sanggar Wayang Ajen tersebut tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni tradisional. Event ini menjadi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk belajar wayang, seni tari, kreativitas, sekaligus mengenal dan mencintai kebudayaan daerah.
Penggagas Wayang Ajen, Dr. Wawan Gunawan atau Ki Dalang Wawan Ajen, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan kebudayaan sebagai ruang aktualisasi masyarakat.
ADVERTISEMENT
Parkir Membludak di Bahu Jalan Jelang PKKMB UIN Bandung, Lalu Lintas Cibiru Macet
Menurutnya, kemerdekaan tidak seharusnya hanya dimaknai melalui seremoni dan perlombaan, tetapi juga melalui kesempatan masyarakat untuk berkarya, menjaga identitas budaya, serta menciptakan nilai ekonomi dari potensi budaya yang dimiliki.
“Anak-anak yang tampil hari ini bukan sekadar sedang mempertunjukkan seni. Mereka sedang belajar menjadi generasi yang mengenal, mencintai, mengembangkan, dan mempertanggungjawabkan kebudayaannya sendiri,” ujar Wawan.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 13 dalang cilik binaan Sanggar Wayang Ajen tampil bergiliran. Mereka yakni Endaru (5), Aden Azlan (5), Rafan Gifari (6), Yudistira (10), Nino (7), Icen (11), Haedar (10), Zafier Gameel (9), Aden Azka (9), Satria (13), Mario Wicaksono (12), Angelica Sitinjak (10), dan Arachi Ammra (11).
Mereka tampil sejak pukul 14.00 hingga 17.30 WIB dengan membawakan berbagai adegan, tokoh, dan karakter sesuai materi yang telah dipelajari di Sanggar Wayang Ajen. Setiap penampilan berlangsung sekitar 10 hingga 25 menit.
Pada malam harinya, Aden Azka Asstrobery Putra tampil membawakan lakon Anoman Duta selama sekitar 45 menit. Pertunjukan kemudian dilanjutkan tiga dalang remaja binaan Ki Dalang Wawan Ajen, yakni Yayar Ajen (15), Adimas Ajen (17), dan Aming Ajen (19), melalui lakon Babad Alas Mertani.
Selain wayang, panggung tersebut juga menampilkan sejumlah penari remaja Wayang Ajen. Mereka membawakan Tari Nusantara, Tari Gunungan, Tari Ronggeng Beken, Fashion Show Karnaval Batik, Tari Subali Sugriwa, Tari Kalaider, hingga Tari Sayur Lodeh.
Penari asal Sukamelang, Aqilah Fitria (12), turut tampil membawakan Tari Karaton Mandalawangi. Sementara Antika Wandandini Gunawan (15) menyanyikan lagu Indonesia Jaya dengan latar penari dan fashion show kostum karnaval.
Wawan menilai kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan karakter melalui kebudayaan. Anak-anak, kata dia, tidak hanya belajar teknik pertunjukan, tetapi juga keberanian, disiplin, kreativitas, tanggung jawab, komunikasi, kerja sama, serta penghormatan terhadap tradisi.
“Kebudayaan tidak cukup hanya dilestarikan sebagai benda atau tontonan. Kebudayaan harus dihidupkan sebagai proses pendidikan, ekspresi kreatif, ruang partisipasi masyarakat, dan sumber nilai tambah bagi kehidupan,” katanya.
Dibiayai Masyarakat
Wawan mengungkapkan, seluruh pelaksanaan Parade Dalang Cilik dan Remaja Wayang Ajen Junior dibiayai secara mandiri oleh keluarga Wayang Ajen, orang tua para dalang cilik, serta para simpatisan.
Kegiatan tersebut, menurutnya, tidak menggunakan APBN maupun APBD.
Ia menyebut kondisi itu sebagai bukti bahwa masyarakat dapat berinisiatif membangun ekosistem kebudayaan dari bawah tanpa harus selalu menunggu pembiayaan pemerintah.
“Kami tidak sedang menunggu pemerintah membiayai kebudayaan. Kami justru menunjukkan bahwa masyarakat mampu bergerak, berinisiatif, berinvestasi, dan membangun ekosistem kebudayaan dari sumber daya yang mereka miliki,” ujarnya.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah unsur pemerintahan dan masyarakat, di antaranya Camat Subang Sumaryadi, Sekretaris Kecamatan Subang Ida Erlinda, Kapolsek Subang AKP Endang Suganda, Lurah Sukamelang Anas Hamzah, jajaran RW 05, para ketua RT, serta masyarakat sekitar.
Apresiasi juga datang dari sejumlah budayawan dan seniman Subang, termasuk Bah Nanu Munajar, Asep Kusmana, dan Edi.
Dukungan dari luar Subang juga terlihat melalui kehadiran Prof. Dr. Geovani Vanrega, pendiri dan pengasuh Pesantren Al Kasyaf Cileunyi, Kabupaten Bandung, serta Alam Syah Pradja, Ketua Dewan Kesenian Kebudayaan Kota Bekasi (DKKKB), bersama jajaran anggotanya.
Soroti Ketidakhadiran Dua Dinas
Di tengah dukungan tersebut, Wawan menyampaikan catatan mengenai ketidakhadiran perwakilan Dinas Pariwisata Subang serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang.
Sebelum kegiatan berlangsung, pihak penyelenggara telah mengirimkan surat kepada kedua perangkat daerah tersebut. Menurut Wawan, surat itu bukan permintaan pembiayaan, melainkan permohonan izin, dukungan, dan kehadiran sebagai bentuk apresiasi terhadap inisiatif masyarakat.
Namun hingga kegiatan selesai, tidak ada perwakilan kedua dinas tersebut yang hadir.
Wawan mengatakan pihaknya mendapat informasi bahwa Kepala Dinas Pariwisata Subang berhalangan hadir karena sakit dan telah menunjuk Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata untuk mewakili. Namun, perwakilan tersebut juga tidak hadir.
“Secara personal kami memahami pemerintah memiliki banyak agenda dan prioritas. Tetapi secara kelembagaan, kondisi ini perlu menjadi bahan refleksi bersama,” katanya.
Ia mempertanyakan bagaimana pemerintah menentukan ukuran penting atau tidaknya sebuah kegiatan kebudayaan.
Menurutnya, kegiatan budaya tidak semestinya baru dianggap penting ketika menggunakan anggaran pemerintah atau diselenggarakan dalam skala besar.
“Apakah kebudayaan baru dianggap bernilai ketika menghasilkan proposal besar dan kegiatan berskala festival? Ataukah keberhasilan pembangunan kebudayaan harus diukur dari seberapa jauh masyarakat mau bergerak, anak-anak mau belajar, seniman mau berkarya, dan tradisi mampu hidup dalam kehidupan generasi baru?” ujarnya.
Berpotensi Jadi Atraksi Wisata
Wawan menilai kegiatan seperti Wayang Ajen Junior memiliki peluang dikembangkan menjadi atraksi wisata budaya yang berkelanjutan.
Menurutnya, Subang memiliki potensi alam, budaya, seni, komunitas, dan kreativitas masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang autentik sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Jika dikelola secara profesional, Parade Dalang Cilik dan Remaja Wayang Ajen Junior dinilai dapat memiliki nilai edukasi, regenerasi seniman, pelestarian dan pemajuan budaya, atraksi wisata, ekonomi kreatif, pemberdayaan masyarakat, promosi destinasi, hingga penguatan identitas daerah.
“Kebudayaan tidak seharusnya ditempatkan di pinggir pembangunan. Kebudayaan dapat menjadi salah satu mesin pembangunan daerah berbasis identitas dan kreativitas masyarakat,” katanya.
Ia berharap pemerintah tidak mengambil alih inisiatif masyarakat, tetapi hadir sebagai penghubung, fasilitator, dan penguat ekosistem.
Menurut Wawan, ketika masyarakat telah bergerak, seniman berkarya, anak-anak belajar, dan komunitas berinvestasi, pemerintah dapat memperkuatnya melalui kebijakan, jejaring, promosi, fasilitasi, dan program yang berkelanjutan.
Menyiapkan Generasi Menuju Indonesia Emas 2045
Wawan juga mengaitkan regenerasi budaya dengan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, pembangunan Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, dan teknologi. Pembangunan manusia yang memiliki karakter, identitas, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi juga menjadi bagian penting.
“Anak-anak Indonesia tidak harus meninggalkan budaya lokal untuk menjadi modern. Mereka justru dapat menjadi modern dengan akar budaya yang kuat,” katanya.
Ia menilai teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memperkuat manusia dan kebudayaan, bukan membuat generasi muda kehilangan akar identitasnya.
Karena itu, Wayang Ajen Junior diharapkan tidak berhenti sebagai pertunjukan tahunan, tetapi berkembang menjadi ruang pendidikan, regenerasi seniman, kreativitas, pemberdayaan masyarakat, diplomasi budaya, serta pertumbuhan ekonomi kreatif.
“Jika masyarakat sudah bergerak membangun kebudayaan, jangan biarkan mereka berjalan sendirian. Pemerintah tidak harus selalu menjadi penyandang dana, tetapi pemerintah harus hadir sebagai penguat ekosistem,” tutur Wawan.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar untuk menjadikan kebudayaan bukan hanya sebagai warisan yang dibanggakan, tetapi juga kekuatan yang terus dihidupkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






