ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Langit Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, dipenuhi aneka layang-layang dari berbagai negara dalam gelaran Festival Layang-layang Internasional yang berlangsung di kawasan Agrowisata Tepas Papandayan pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Selain menjadi atraksi wisata, festival tersebut dinilai sebagai simbol keharmonisan hubungan antarnegara sekaligus momentum memperkenalkan potensi wisata dan produk unggulan Kabupaten Garut ke kancah internasional.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan festival, mulai dari pemerintah daerah, unsur Forkopimda, penyelenggara, hingga komunitas layang-layang dari Malaysia.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi kunci sukses terselenggaranya event internasional yang diharapkan mampu mengangkat sektor pariwisata sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Dengan PT Menara Graha 165 Asgar Jaya, Desa Emas, komunitas pelayang dari Malaysia, serta seluruh unsur Forkopimda, kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Harapan kami tentu dapat meningkatkan potensi wisata Garut sekaligus memperkuat kesempatan UMKM untuk berkembang,” ujar Abdusy Syakur Amin, Sabtu (1/8/2026).
Ia juga mengaku senang melihat antusiasme pelaku UMKM yang tidak hanya berasal dari Garut, tetapi juga dari daerah lain seperti Kota Bandung.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan festival mampu menjadi ruang promosi dan perputaran ekonomi yang melibatkan masyarakat Jawa Barat secara lebih luas.
“Saya melihat bukan hanya UMKM Garut yang hadir, tetapi juga dari Bandung. Menurut saya ini menjadi ajang yang sangat baik untuk mengembangkan ekonomi masyarakat, bukan hanya Garut tetapi juga Jawa Barat,” katanya.
Evaluasi untuk Festival yang Lebih Besar
Meski berlangsung meriah, Abdusy Syakur mengakui penyelenggaraan perdana festival masih memiliki sejumlah kekurangan yang perlu dievaluasi.
Ia berharap penyelenggara dapat melakukan perbaikan agar festival serupa pada tahun mendatang berlangsung lebih baik, lebih tertata, dan mampu menarik lebih banyak wisatawan.
“Karena ini baru pertama kali, tentu masih ada kekurangan. Nanti kita evaluasi bersama agar tahun depan bisa dilaksanakan dengan lebih baik lagi,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah daerah dapat meningkatkan kualitas infrastruktur menuju lokasi penyelenggaraan sehingga event tersebut dapat berkembang menjadi agenda wisata berskala internasional.
“Kami berharap kepala desa dan camat dapat membantu memperbaiki infrastruktur sehingga tahun depan acaranya bisa lebih besar, lebih megah, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas,” tuturnya.
Kenalkan Garut ke Dunia Internasional
Abdusy Syakur menilai Festival Layang-layang Internasional bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media diplomasi budaya yang memperkenalkan Kabupaten Garut kepada masyarakat dunia.
Menurutnya, kehadiran peserta mancanegara menjadi peluang untuk memperkenalkan destinasi wisata, budaya, hingga keramahan masyarakat Garut.
“Harapan kami, melalui kunjungan ke tempat ini dan destinasi lainnya, Garut akan semakin dikenal oleh komunitas internasional,” katanya.
Ia menambahkan, seluruh masyarakat juga perlu mempersiapkan diri menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan asing.
“Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya masyarakat agar terbiasa menerima tamu dari luar negeri dengan sikap ramah, terbuka, dan memberikan pelayanan yang baik,” ujarnya.
Tanggapi Keluhan Tiket
Menanggapi berbagai komentar di media sosial terkait harga tiket festival, Abdusy Syakur menyebut hal tersebut merupakan bagian dari proses penyelenggaraan sebuah event perdana.
Ia menjelaskan, festival ini merupakan kegiatan mandiri yang dikelola oleh penyelenggara tanpa dukungan anggaran khusus dari Pemerintah Kabupaten Garut. Pemerintah hanya membantu dari sisi fasilitas dan perbaikan akses menuju lokasi.
“Namanya juga penyelenggaraan pertama, pasti ada kekurangan. Event ini diselenggarakan secara mandiri, sementara pemerintah daerah membantu memperbaiki sarana dan prasarana pendukung,” jelasnya.
Di akhir wawancara, Abdusy Syakur berharap Festival Layang-layang Internasional dapat menjadi agenda tahunan yang mampu memperkuat citra Garut sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Ia menilai layang-layang yang terbang bersama di langit yang sama menjadi simbol persahabatan, perdamaian, dan keharmonisan antarbangsa.
“Layang-layang yang melayang di satu langit yang sama menjadi simbol bahwa berbagai negara dapat hidup berdampingan, menjalin persahabatan, dan membangun hubungan yang harmonis.” Ucapannya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






