ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Merah putih mulai berkibar di sudut-sudut Kota Bandung menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.
Lapak-lapak penjual bendera kembali bermunculan di pinggir jalan, menghadirkan semangat kemerdekaan yang setiap tahun dinanti. Namun, di balik semarak tersebut, para pedagang justru tengah berjuang mempertahankan penghasilan di tengah gempuran penjualan online dan melonjaknya harga bahan baku.
Pantauan di kawasan Jalan Ahmad Yani, Senin (28/7), deretan bendera berbagai ukuran, umbul-umbul, hingga ornamen bernuansa merah putih telah dipajang sejak pagi. Sesekali pengendara menghentikan laju kendaraannya untuk melihat-lihat. Namun, transaksi yang benar-benar berujung pembelian masih belum seramai harapan para pedagang.
ADVERTISEMENT
Bagi Cucu (44), momen menjelang Agustus bukan sekadar musim jualan, melainkan penentu keberlangsungan usahanya. Sejak 2001, ia menggantungkan hidup dari penjualan bendera dan atribut kemerdekaan. Biasanya, memasuki akhir Juli hingga Agustus, pembeli mulai berdatangan dari kalangan masyarakat, sekolah, perkantoran, hingga pengurus RT dan RW.
“Biasanya menjelang Agustus pembeli mulai ramai. Yang paling banyak dicari untuk rumah ukuran 90 sentimeter dan 120 sentimeter,” ujarnya.
Selain bendera untuk rumah, permintaan juga datang untuk bendera berukuran besar, umbul-umbul, backdrop, hingga berbagai dekorasi yang digunakan memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan.
Namun, suasana usaha kini tak lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Jika dulu persaingan hanya terjadi antarpenjual di pinggir jalan, kini lawan terbesar justru datang dari layar ponsel. Kehadiran berbagai platform belanja online membuat banyak calon pembeli lebih memilih membandingkan harga sebelum memutuskan membeli.
“Sekarang persaingannya bukan lagi sesama pedagang, tapi dengan online. Banyak pembeli membandingkan harga di internet, padahal barang yang kami jual bisa langsung dilihat kualitas dan ukurannya,” kata Cucu.
Di sisi lain, harga bahan baku kain yang terus meningkat semakin menekan keuntungan pedagang. Menurutnya, harga murah yang ditawarkan toko online belum tentu sebanding dengan kualitas barang yang diterima. Belum lagi biaya pengiriman yang sering kali luput diperhitungkan konsumen saat membandingkan harga.
Meski menghadapi berbagai tantangan, para pedagang tetap menaruh harapan besar pada momentum HUT ke-80 RI. Mereka berharap semangat nasionalisme masyarakat tidak hanya diwujudkan dengan mengibarkan Sang Merah Putih, tetapi juga dengan membeli langsung dari pedagang kecil yang setiap tahun setia hadir di tepi jalan.
“Harapannya pembeli lebih ramai dan harga bahan baku jangan terus naik supaya kami tetap bisa berjualan,” tutup Cucu.
Bagi para pedagang musiman ini, Agustus bukan hanya tentang perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi penentu apakah mereka bisa membawa pulang rezeki yang cukup untuk keluarga di tengah perubahan pola belanja masyarakat.(Supyan Al Ansory/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






