KORANMANDALA.COM – Kabupaten Garut berkolaborasi dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai upaya meningkatkan capaian literasi dan numerasi peserta didik. Kolaborasi tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) yang melibatkan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Garut.
Ketua Program Studi PPG UPI, Prof. Dr. Asep Harry Hermawan, M.Pd., mengatakan Kabupaten Garut memiliki potensi besar dalam pengembangan pendidikan dan peningkatan sumber daya manusia. Menurutnya, kerja sama antara Garut dan Sekolah Pascasarjana (SPs) UPI menjadi langkah positif dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
“Garut itu tempat pendidikan yang bisa meningkatkan sumber daya manusia. Oleh karena itu, melalui PPG kami melakukan pengabdian ini, di samping itu juga Garut dan UPI sudah memiliki kerja sama yang baik,” kata Asep.
Ia menjelaskan, tema P2M kali ini berkaitan dengan pembelajaran mendalam (deep learning) karena masih terdapat berbagai tantangan dalam implementasinya di lapangan.
“Tema P2M ini tentang pembelajaran mendalam. Kami melihat masih banyak permasalahan dalam pelaksanaan dan implementasinya. Mudah-mudahan melalui P2M ini kita bisa melihat persoalan pembelajaran mendalam di lapangan seperti apa, sehingga bisa memberikan kontribusi kepada mahasiswa PPG,” ujarnya.
Menurut Asep, mahasiswa PPG yang terlibat memiliki berbagai bidang studi sehingga dapat berkontribusi dalam penguatan pembelajaran di tingkat sekolah dasar.
“Para mahasiswa PPG ini banyak bidang studinya dan itu bisa masuk ke dalam pembelajaran mendalam untuk penguatan di tingkat sekolah dasar,” tambahnya.
Terkait masih tingginya angka putus sekolah di Kabupaten Garut, Asep berharap kehadiran 360 mahasiswa PPG dapat memberikan motivasi kepada siswa maupun guru.
“Mudah-mudahan dengan adanya mahasiswa kita yang membawa 360 orang ini bisa memotivasi para siswa dan guru di lingkungan Kabupaten Garut. Ini bisa mendorong bahwa belajar adalah sebuah kewajiban, sehingga sekolah dapat mengakomodasi kewajiban belajar tersebut,” jelasnya.
Asep juga menyoroti rendahnya kemampuan numerasi di Kabupaten Garut. Salah satu program pengabdian yang dilakukan adalah pengenalan metode pembelajaran Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan) kepada para guru.
“Salah satu topik pengabdian kami adalah Gasing, pembelajaran yang gampang, asyik, dan menyenangkan. Mahasiswa SPs juga memiliki spesialisasi di bidang Gasing. Nantinya, sebanyak 76 guru akan mengikuti program ini,” katanya.
Ia berharap program tersebut dapat diteruskan dan dikembangkan lebih luas oleh para guru. Menurutnya, pelatihan Gasing membutuhkan waktu yang cukup panjang agar hasilnya maksimal.
“Mudah-mudahan ada penetrasi dari para guru ke teman-teman lainnya, sehingga ke depan bisa dilakukan kegiatan yang lebih riil. Karena untuk Gasing tidak bisa dilakukan hanya satu hari, minimal membutuhkan sekitar 15 hari pelatihan,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyampaikan bahwa salah satu tantangan pembangunan di Kabupaten Garut adalah meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi masyarakat.
Ia menilai UPI sebagai lembaga pendidikan yang memiliki fokus dan kompetensi di bidang pendidikan dapat menjadi mitra strategis dalam menghadapi tantangan tersebut.
“Tadi saya menyampaikan tentang tantangan pembangunan yang dihadapi Kabupaten Garut. Salah satunya kita ingin mendorong literasi dan numerasi. Alhamdulillah UPI merupakan lembaga pendidikan terbaik di Indonesia yang fokus di bidang pendidikan,” tutur Syakur.
Menurutnya, peningkatan kualitas guru tidak dapat dilakukan secara instan karena jumlahnya cukup banyak. Karena itu, Pemkab Garut membutuhkan dukungan dari UPI melalui berbagai program pelatihan.
“Guru juga banyak yang perlu di-upgrade. Susah kalau dilakukan sekaligus. Kami meminta bantuan kepada teman-teman UPI yang juga memiliki keahlian di bidang numerasi, termasuk Gasing. Ke depan mungkin ada kegiatan yang lebih intensif lagi,” ujarnya.
Syakur menambahkan, peningkatan literasi dan numerasi menjadi salah satu indikator evaluasi kinerja kepala sekolah dan guru di Kabupaten Garut.
“Kemarin kita melakukan pengiriman guru, tetapi jumlahnya terbatas. Ke depan dengan adanya kerja sama dan pelatihan, kita dorong. Secara teoritis saya juga sudah mengingatkan kepala sekolah bahwa literasi dan numerasi menjadi indikator utama yang kita evaluasi terhadap kinerja kepala sekolah maupun guru. Ini menjadi tantangan kita bersama,” katanya.
Ia mengapresiasi keterlibatan 360 mahasiswa PPG dari delapan program studi dalam kegiatan pengabdian tersebut.
“Saya ucapkan terima kasih, jumlahnya sangat fantastis, 360 orang dengan delapan program studi. Yang pasti ini sangat bernilai. Kita berharap kerja sama ini menjadi pola yang saling menguntungkan,” pungkasnya.
