KORANMANDALA.COM – Persaingan dunia kerja kini tidak lagi terbatas pada tingkat lokal maupun nasional. Perkembangan teknologi, transformasi digital, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membuka ruang kompetisi yang bersifat global, sehingga sumber daya manusia (SDM) Indonesia dituntut memiliki kompetensi yang lebih komprehensif.
Dosen Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung, Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M., menilai kemampuan hubungan interpersonal kini menjadi salah satu kompetensi strategis yang menentukan keberhasilan seseorang dalam memasuki dunia kerja modern.
Menurutnya, cita-cita Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila pembangunan SDM mampu mengikuti perubahan lanskap dunia kerja yang berlangsung sangat cepat.
Perkembangan Cuaca Bandung dan Sekitarnya: Suhu Dingin Berpotensi Terjadi pada Awal Musim Kemarau
“Perkembangan revolusi industri, transformasi digital, ekonomi kreatif, hingga kecerdasan buatan telah mengubah karakter dunia kerja secara fundamental. Persaingan tenaga kerja sekarang tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis, tetapi berlangsung dalam ruang kompetisi global,” ujar Wawan.
Ia menjelaskan, perusahaan multinasional, industri kreatif, lembaga internasional, hingga perusahaan rintisan (startup) kini lebih mengutamakan kompetensi dibandingkan asal negara tenaga kerja. Profesional yang memiliki integritas, kemampuan beradaptasi, inovasi, serta mampu bekerja secara kolaboratif memiliki peluang lebih besar untuk bersaing.
Dalam kondisi tersebut, kemampuan interpersonal tidak lagi sekadar dipandang sebagai keterampilan sosial, tetapi telah berkembang menjadi kompetensi inti yang menentukan keberhasilan individu maupun organisasi.
“Hard skill tetap menjadi fondasi profesionalisme. Namun kemampuan berkomunikasi secara efektif, bekerja dalam tim, menghargai keberagaman budaya, menyelesaikan konflik, membangun jejaring profesional, hingga kepemimpinan kolaboratif menjadi faktor pembeda dalam meningkatkan daya saing seseorang,” katanya.
Wawan menambahkan, kompetensi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam mempersiapkan SDM yang unggul, adaptif, inovatif, kreatif, dan mampu bersaing di tingkat internasional.
Di sisi lain, ia memandang keterbukaan pasar tenaga kerja global harus disikapi secara bijaksana. Menurutnya, perubahan yang terjadi seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk meningkatkan kualitas SDM nasional.
“Perubahan ini jangan menjadi hambatan. Justru harus menjadi momentum untuk menangkap berbagai peluang yang muncul di tingkat global,” ujarnya.
Meski demikian, Wawan menilai masih terdapat tantangan yang perlu mendapat perhatian, yakni kesenjangan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.
Ia mengatakan banyak lulusan memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi belum sepenuhnya dibekali keterampilan komunikasi profesional, kemampuan berkolaborasi, maupun kesiapan menghadapi lingkungan kerja yang multikultural.
“Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Perlu ada jembatan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri agar lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi interpersonal yang dibutuhkan dunia kerja,” jelasnya.
Menurut Wawan, pemerintah memiliki peran strategis dalam membuka ruang kolaborasi antara institusi pendidikan dan dunia usaha sehingga lulusan memperoleh kesempatan mengembangkan kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja.
Ia juga menekankan pentingnya sistem yang memberikan ruang kompetisi secara sehat berbasis prestasi, kapasitas, dan profesionalisme sehingga mampu mendorong generasi muda terus meningkatkan kualitas dirinya.
“Semangat untuk belajar dan berprestasi harus terus dijaga. Dunia kerja membutuhkan sumber daya manusia yang profesional, mampu bekerja lintas disiplin, memahami keberagaman budaya, serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri,” pungkasnya.
