KORANMANDALA.COM – Melemahnya nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS mulai dirasakan pelaku usaha di sektor tekstil dan konfeksi. Kenaikan harga bahan penunjang produksi, seperti benang jahit dan benang obras, ikut menambah beban pelaku usaha kecil yang bergantung pada kebutuhan harian tersebut.
Dampak itu juga dirasakan salah satunya oleh penjahit permak pakaian, Sumartini (46), perantau asal Pangandaran yang telah menjalankan usaha permak pakaian selama lima tahun.
Menurutnya, meski kenaikan harga bahan belum terlalu besar, kondisi tersebut tetap memengaruhi pendapatan karena pelaku usaha harus menanggung kenaikan biaya produksi.
“Mau enggak mau harus dibeli walaupun naik, soalnya itu kebutuhan,” Hal itu disampaikan Sumartini saat ditemui di tempat usahanya di lantai 2 Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jumat (22/5/2026).”
Ia menjelaskan harga benang jahit ukuran kecil yang sebelumnya Rp2.500 kini naik menjadi Rp3.000 per gulung. Sementara benang obras mengalami kenaikan dari Rp12.500 menjadi Rp15.000.
“Yang kecil dari Rp2.500 jadi Rp3.000. Kalau benang obras yang besar dari Rp12.500 jadi Rp15.000,” ujarnya.
Menurut Sumartini, kenaikan seperti ini baru kembali dirasakan setelah cukup lama harga bahan relatif stabil. Meski tidak mengetahui pasti penyebabnya, ia mengaku mendapatkan informasi dari penjual bahwa kenaikan terjadi karena kendala pasokan barang.
“Katanya sih dari barangnya, susah keluar masuknya. Saya juga kurang tahu, dari tokonya bilang barangnya memang sudah naik,” katanya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada keuntungan yang diperoleh pelaku usaha kecil. Pasalnya, biaya tambahan bahan produksi sering kali tidak diikuti dengan kenaikan tarif jasa karena pelanggan cenderung keberatan jika harga dinaikkan.
“Barang naik pun ya kita yang tanggung. Kadang konsumen kalau harga naik suka tidak mau, alhasil peminat daya jual belinya kurang ” ucapnya.
Saat ini Sumartini melayani berbagai jasa permak seperti memotong celana, mengecilkan atau membesarkan ukuran pakaian.
Untuk jasa potong celana misalnya, tarif yang dipatok sekitar Rp15 ribu. Namun menurutnya, kenaikan harga bahan mulai cukup terasa terhadap pendapatan bersih yang diterimanya.
“Karena saya sebetulnya karyawan yang punya usaha nya itu bos saya, jadi sistemnya bagi hasil 50:50, jadi biaya kenaikan produksi ditanggung saya” Ujarnya.
Ia berharap harga kebutuhan produksi dapat kembali stabil agar pelaku usaha kecil tidak semakin terbebani.
“Mudah-mudahan harga semakin stabil, dan kami disini sebagai pelaku usaha tidak terbebani, harapannya jangan naik-naik lagi terus menerus ” Pungkasnya.
