ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, ibadah kurban kembali menjadi perhatian masyarakat. Di tengah perkembangan zaman, ibadah kurban dinilai tetap memiliki makna sosial yang kuat sebagai simbol kepedulian dan solidaritas terhadap sesama.
Dosen sekaligus Dekan Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung Asep Ahmad Shiddiq, Esensi sosial ibadah kurban hingga kini tidak mengalami perubahan mendasar. Menurutnya, nilai pengorbanan, kepedulian sosial, dan pemerataan kesejahteraan tetap menjadi inti dari pelaksanaan kurban di masyarakat.
“Dalam perspektif akademik, esensi sosial ibadah kurban sejatinya tetap berkaitan dengan nilai pengorbanan, kepedulian sosial, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Perubahan yang terjadi lebih banyak menyentuh aspek teknis dan pola pelaksanaan yang mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (8/5/2026).
ADVERTISEMENT
Ia menjelaskan, dahulu pelaksanaan kurban identik dengan kegiatan kolektif di lingkungan masyarakat yang menghadirkan interaksi sosial secara langsung. Namun kini, pelaksanaannya mulai berkembang melalui sistem digital, distribusi lintas daerah, hingga pengelolaan yang lebih profesional.
“Kini pelaksanaan kurban semakin modern melalui sistem digital, distribusi lintas daerah, dan pengelolaan yang lebih profesional. Perkembangan tersebut memberikan dampak positif berupa meluasnya distribusi manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Menurutnya, nilai utama kurban juga telah ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman, “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2).
Selain itu, ia menyebut Al-Qur’an juga menegaskan bahwa inti dari ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan ketakwaan pelakunya.
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37).
Ia menambahkan, Rasulullah saw. juga menegaskan keutamaan ibadah kurban dalam hadisnya. “Tidak ada amalan yang paling dicintai Allah pada hari raya kurban selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi).
Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan di balik modernisasi pelaksanaan kurban, seperti mulai berkurangnya kedekatan sosial secara langsung dan munculnya kecenderungan menjadikan kurban sebagai simbol pencitraan.
“Modernisasi juga memunculkan tantangan baru, seperti berkurangnya kedekatan sosial secara langsung dan kecenderungan sebagian pihak menjadikan kurban sebagai bagian dari simbol sosial atau pencitraan publik,” ucapnya.
Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi berbagai tantangan, ia menilai momentum Idul Adha seharusnya menjadi pengingat pentingnya memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama.
“Secara sosial, kurban menjadi media pemersatu antara kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi dengan masyarakat yang membutuhkan, sehingga nilai kemanusiaan dan keadilan sosial tetap menjadi inti dari ibadah tersebut,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






