KORANMANDALA.COM –Upaya menekan angka stunting terus digaungkan oleh generasi muda. Salah satunya datang dari ajang Duta Generasi Berencana (GenRe) Kota Bandung 2026.
Melalui panggung edukasi tersebut, peserta Duta GenRe, Rahmi Nurin Daniswara, menegaskan pentingnya peran anak muda dalam memutus rantai stunting sejak dini.
Dalam pemaparannya, Rahmi menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi terganggunya pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, yang terjadi sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun.
Banjir Bandung Meluas, Tanggul Jebol di Banjaran Telan Korban Jiwa
“Dampaknya tidak main-main. Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki perkembangan otak yang tidak optimal, lebih rentan sakit, dan sulit mencapai potensi maksimalnya,” ujar Rahmi.
Ia memaparkan, berdasarkan data nasional, sekitar 4,48 juta balita di Indonesia atau setara 19,8 persen mengalami stunting. Sementara di Jawa Barat, jumlahnya mencapai 638 ribu balita. Angka tersebut menunjukkan bahwa stunting masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.
Rahmi mengungkapkan, terdapat tiga faktor utama penyebab stunting. Pertama, pola asuh yang kurang tepat. Kedua, rendahnya asupan gizi, terutama pada masa krusial seribu hari pertama kehidupan. Dan ketiga, kondisi lingkungan yang tidak bersih.
Sebagai bagian dari generasi muda Sunda, Rahmi mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai luhur budaya Sunda, yakni konsep 3S: silih asah, silih asih, dan silih asuh.
“Silih asah berarti saling berbagi pengetahuan, terutama tentang pentingnya gizi. Silih asih adalah kepedulian terhadap ibu hamil dan balita di sekitar kita. Dan silih asuh adalah menjaga lingkungan tetap bersih serta mendukung kegiatan posyandu,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda.
“Mari bangun kesadaran bersama. Setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini akan menentukan kualitas generasi masa depan. Stunting bisa dicegah jika kita saling asah, asih, dan asuh,” tegasnya.
Dia pun menutup dengan optimisme bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat terwujud jika dimulai dari kepedulian terhadap generasi sejak dini.
“Indonesia Emas 2045 dimulai dari Sunda yang peduli, dari kita semua yang bergerak hari ini,” pungkasnya.
