KORANMANDALA.COM –Fenomena masalah kesehatan mental yang marak di kalangan pelajar menjadi perhatian serius. Di Kota Bandung misalnya, hasil skrining kesehatan Pemkot Bandung pada 2025 menunjukkan, lebih dari 71 ribu siswa dari jenjang SD-SMA terindikasi mengalami masalah kesehatan mental.
Sementara itu, merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh akademisi Universitas Islam Bandung (Unisba) pada 2023/2024, sekitar 62 ribu siswa di Kota Bandung terindikasi mengalami gangguan psikologis.
Dosen Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Miryam Wedyaswari, mengatakan masalah kesehatan mental di kalangan pelajar dapat dipahami sebagai salah satu dampak dari stres yang dialami dalam keseharian.
Respons Dugaan Kebocoran Data Warga Bandung, Praktisi Soroti Lemahnya Tata Kelola Keamanan Siber
Ia menjelaskan, stres yang tidak dikelola dengan baik akan berkembang menjadi keluhan kesehatan mental pada pelajar. Salah satu bentuk keluhan yang kerap muncul, kata dia, adalah burnout atau kelelahan mental akibat tekanan yang terus berlangsung.
“Jadi karena segala macam tuntutan yang ada tapi misalnya sumber dayanya juga ternyata tidak cukup kuat gitu menghadapi tekanan itu jadinya kewalahan atau burnout,” kata Miryam, saat dihubungi, Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan, stres pada pelajar dapat dipicu oleh berbagai faktor, terutama tekanan akademik yang berlangsung dalam rutinitas harian.
“Tekanan itu biasanya datang dari beban jam belajar, kalau sekarang itu kan kebanyakan sekolah tuh dari pagi sampai sore, terus dilanjut misalnya ada yang les, dilanjut juga misalnya dengan banyaknya PR,” tuturnya.
Selain jam belajar, ia menyebut tuntutan untuk berprestasi yang biasanya datang dari lingkungan sekolah maupun orang tua turut menjadi beban tambahan bagi para pelajar.
Sementara dari sisi nonakademik, Miryam memandang media sosial menjadi salah satu pemicu utama stres di kalangan pelajar, terutama di tingkat SMP dan SMA. Ia menyebut remaja rentan membandingkan diri dengan orang lain, terutama pada fase pencarian jati diri. Kondisi ini memicu rasa tidak puas terhadap diri sendiri dan memunculkan fenomena fear of missing out (FOMO).
“Dari media sosial ini juga membuat mereka membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Jadi mereka terlalu fokus sama orang lain dan lupa kalau dirinya sendiri sudah punya identitas,” terangnya.
Miryam menambahkan, bentuk stres yang dialami pelajar juga berkaitan dengan tahap perkembangan di setiap jenjang pendidikan. Pada tingkat SD, ia menjelaskan, stres berkaitan dengan proses pembentukan kemandirian dan kemampuan berkolaborasi.
“Tekanan muncul ketika lingkungan tidak mendukung perkembangan tersebut, misalnya ketika anak lebih sering dihadapkan pada kompetisi dibandingkan kerja sama,” ucapnya.
Sementara pada jenjang SMP dan SMA, stres berkaitan dengan proses mengenali diri dan membangun relasi sosial. Menurutnya, hambatan dalam menjalani proses tersebut turut berpotensi memicu stres.
Ia menilai, ketika berbagai sumber tekanan tersebut tidak ditangani, dampaknya tidak hanya berhenti pada kelelahan mental. Pelajar juga dapat mengalami kecemasan yang berkaitan dengan masa depan, prestasi, dan harapan dari lingkungan sekitar.
Selain itu, menurutnya, hal ini juga akan berdampak pada performa akademik. Pelajar dapat mengalami penurunan fokus di kelas, berkurangnya keterlibatan dalam kegiatan sekolah, hingga kehilangan motivasi. Dalam kondisi tertentu, tekanan yang berlarut dapat memicu keengganan untuk mengikuti proses pembelajaran.
“Jadi performa akademiknya bukan cuma soal nilai tapi juga soal engagement di kelas, keterlibatan dia di kegiatan-kegiatan sekolah baik kurikuler maupun non-kurikuler itu bisa jadi menurun,” ujarnya.
Miryam menyebut dalam jangka panjang, tekanan psikologis yang terus berlangsung juga berdampak pada kondisi fisik. Ia menilai penurunan daya tahan tubuh menjadi salah satu konsekuensi dari kelelahan emosional, sehingga pelajar lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.
