ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Dalam podcast resmi Google Search Off the Record yang rilis (8/1/2026), Danny Sullivan menyatakan bahwa praktik Bite-Sized Chunks (memecah konten menjadi potongan kecil) demi memuaskan sistem AI atau LLM (Large Language Model) bukanlah strategi yang sehat.
“Kami tidak ingin kamu melakukan itu,” kata Sullivan, menekankan bahwa Google tidak ingin konten dibuat khusus untuk algoritma, melainkan untuk manusia.
Pernyataan petinggi Google ini muncul di tengah tren banyak kreator digital yang mencoba menyesuaikan konten agar lebih mudah diproses oleh model bahasa besar/LLM yang menyuplai data untuk sistem AI.
ADVERTISEMENT
Google Quantum Computing, Mampu Jalankan Algoritma 13.000 Kali Lebih Cepat dari Superkomputer
Sullivan bahkan mengingatkan, meski trik ini mungkin terlihat berhasil sekarang, sistem ranking akan terus berkembang dan pada akhirnya lebih menghargai konten yang ditulis untuk manusia.
LLM merupakan model AI yang dilatih menggunakan jumlah data teks yang sangat besar untuk memahami, menghasilkan, dan memproses bahasa manusia.
Model ini bisa menjawab pertanyaan, menulis artikel, membuat ringkasan, bahkan melakukan percakapan seperti manusia. Contoh LLM yang terkenal antara lain GPT, PaLM, dan Claude
Google sedang Ujicoba AI Overview
Google sendiri sedang menguji fitur AI Overview di hasil pencarian. Fitur ini memanfaatkan LLM untuk merangkum informasi bagi pengguna.
Namun, Sullivan menekankan bahwa konten yang ditulis dengan fokus pada manusia akan lebih tahan lama. “Segala upaya yang Anda lakukan untuk menyesuaikan diri dengan sistem LLM… mungkin tidak akan relevan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Hal ini sejalan dengan pernyataan John Mueller, Search Advocate Google, yang sebelumnya menekankan bahwa kualitas konten tetap menjadi faktor utama.
Dalam forum resmi Google Search Central, Mueller mengatakan: “Menciptakan konten yang berfokus pada pengguna, bukan mesin pencari, telah lama dianggap sebagai praktik terbaik.”.
Jangan Terjebak Trik SEO Jangka Pendek
Barry Schwartz, editor eksekutif Search Engine Roundtable, menyoroti bahwa pesan Sullivan mengulang pola lama dalam SEO: jangan terjebak pada trik jangka pendek.
Schwartz menulis bahwa strategi seperti ini sering kali hanya menciptakan “turmoil” (gejolak atau hiruk-pikuk) di tim marketing dan konten.
Sementara itu, Rand Fishkin, pendiri SparkToro, pernah menyatakan bahwa algoritma akan selalu berubah, tetapi “Satu-satunya hal yang konsisten adalah kebutuhan audiens terhadap nilai yang mereka dapatkan.”
Dalam kaitan Generasi muda, khususnya Gen Z, cenderung mengonsumsi informasi dalam format cepat dan pendek seperti TikTok atau Instagram Reels.
Namun, Google mengingatkan bahwa meski format singkat populer, konten mendalam tetap penting untuk membangun otoritas.
Laporan dari Pew Research Center menunjukkan bahwa 58% Gen Z lebih suka konten visual singkat, tetapi mereka tetap mencari sumber mendalam ketika topik dianggap penting.
Danny Sullivan
Sejak Oktober 2017, Danny Sullivan bergabung dengan Google sebagai penasihat di divisi pencarian. Ia kemudian menjadi Search Liaison, yaitu jembatan komunikasi antara Google Search dengan publik.
Tugasnya adalah membantu masyarakat memahami cara kerja pencarian Google sekaligus menyampaikan masukan publik ke tim internal Google.
Sullivan sering dijuluki sebagai “bapak industri search engine marketing”, karena berjasa mempopulerkan istilah Search Engine Marketing (SEM) dan membangun fondasi awal komunitas SEO global.***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






