WNI Zahid Abdillah membagikan pengalamannya mengatur keuangan, menekan pengeluaran, dan bertahan di tengah tingginya biaya hidup Australia (Doc: M.Zahid Abdillah)
KORAN MANDALA – Tinggal dan bekerja di Australia menawarkan peluang untuk mendapatkan penghasilan yang relatif besar. Namun, besarnya pendapatan tersebut juga harus diimbangi dengan biaya hidup yang tidak sedikit.
Hal itu dirasakan M. Zahid Abdillah (22), warga negara Indonesia (WNI) yang telah tinggal di Australia selama sekitar tujuh bulan menggunakan visa Work and Holiday (WHV).
Selama berada di Negeri Kanguru, Zahid telah berpindah ke tiga kota, yakni Sydney, Singleton, hingga kini menetap di Griffith, New South Wales. Saat ini, ia bekerja sebagai farmhand atau pekerja di peternakan ayam Baiada.
Zahid mengatakan, tujuan dirinya datang ke Australia adalah untuk mendapatkan pengalaman kerja, mencari penghasilan, sekaligus menabung untuk masa depan.
Meski memperoleh penghasilan yang cukup besar, ia menilai tinggal di Australia tetap membutuhkan kemampuan mengatur keuangan agar pendapatan tidak habis untuk kebutuhan sehari-hari.
“Strategi utama saya adalah berusaha mengontrol pengeluaran, memprioritaskan kebutuhan pokok, dan tidak menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting,” ujar Zahid saat dihubungi koran Mandala, Minggu (1/11/2026)
Zahid menilai tidak ada satu angka yang bisa menjadi patokan penghasilan minimal untuk hidup layak di Australia. Kebutuhan seseorang yang tinggal sendiri tentu berbeda dengan mereka yang berbagi rumah bersama pekerja lain.
“Yang paling penting adalah menghitung pengeluaran bulanan terlebih dahulu, kemudian memastikan penghasilan cukup untuk membayar kebutuhan pokok dan masih menyisakan uang untuk tabungan serta keadaan darurat,” katanya.
Sewa Jadi Pengeluaran Terbesar
Selama tujuh bulan tinggal di Australia, Zahid merasakan perbedaan biaya hidup yang cukup signifikan antara kota besar dan kota kecil.
Saat pertama kali datang, ia tinggal di Sydney. Menurutnya, biaya tempat tinggal di kota besar tersebut cukup mahal, bahkan ketika harus berbagi hunian dengan orang lain.
“Seperti contohnya saat saya pertama kali datang ke Australia, saya datang ke kota besar yaitu Kota Sydney, dan di sana benar-benar sangat mahal. Walaupun untuk berbagi, mungkin sekitar 200 dolar Australia (Rp2.548.734) selama seminggu dan selama sebulan mungkin sekitar 800 dolar Australia (Rp10.224.880),” ujar Zahid.
Sementara jika dibandingkan dengan kota yang kini ditempatinya, biaya tempat tinggal di Griffith lebih rendah.
“Jika dibandingkan dengan kota yang saya tinggali sekarang, mungkin biaya sewanya hanya 150 dolar Australia (Rp1.911.550,50) per minggu atau sekitar 600 dolar Australia (Rp7.643.514) per bulan,” katanya.
Menurut Zahid, berbagi rumah dengan pekerja lain menjadi salah satu cara untuk menekan biaya hidup. Dengan berbagi tempat tinggal, biaya sewa dan tagihan dapat dibagi sehingga tidak seluruhnya ditanggung sendiri.
Namun, harga sewa tetap bergantung pada lokasi, kondisi rumah, fasilitas, serta jenis kamar yang dipilih, baik kamar pribadi maupun berbagi dengan orang lain.
Selain tempat tinggal, makanan, transportasi, dan kebutuhan pribadi juga menjadi pengeluaran rutin yang harus diperhitungkan.
Untuk kebutuhan makanan dan bahan masakan, Zahid mengeluarkan sekitar 100 dolar Australia (Rp1.274.367) hingga 200 dolar Australia (Rp2.548.734).
Sementara biaya transportasi dan bensin berkisar antara 50 dolar Australia (Rp637.183,50) hingga 100 dolar Australia (Rp1.274.367). Ia juga mengeluarkan sekitar 50 dolar Australia (Rp637.183,50) per bulan untuk internet.
Adapun kebutuhan pribadi lainnya dapat mencapai sekitar 100 dolar Australia (Rp1.274.367) hingga 200 dolar Australia (Rp2.548.734).
“Jadi, pengeluarannya sebenarnya bisa lebih rendah atau lebih tinggi, tergantung harga sewa, lalu tergantung kebutuhan kita apa saja di sini,” ujarnya.
Pilih Masak Sendiri
Untuk mengendalikan pengeluaran, Zahid memilih lebih sering memasak sendiri dibandingkan membeli makanan di luar.
Ia pun memilih membeli bahan makanan dan memasaknya sendiri sebagai salah satu cara menghemat pengeluaran.
Selain itu, Zahid juga membuat daftar belanja, membandingkan harga, serta membeli barang yang sedang mendapatkan diskon.
“Kebutuhan seperti beras, daging, ayam, sayuran, susu, dan perlengkapan rumah tangga merupakan pengeluaran rutin. Menurut saya, cara berbelanja sangat mempengaruhi pengeluaran bulanan,” ujarnya.
Zahid juga menemukan perbedaan harga barang, termasuk makanan, yang mendekati batas tanggal penggunaan tertentu.
Menurutnya, barang yang mendekati tanggal use-before dapat dijual dengan harga lebih murah. Ia membedakan istilah tersebut dengan makanan yang telah melewati masa kedaluwarsa.
Gaji Besar, Biaya Hidup Juga Tinggi
Saat ini, Zahid bekerja sebagai farmhand di Baiada. Penghasilannya dapat berubah tergantung jumlah jam kerja, hari kerja, dan ketentuan pembayaran.
Ia mengaku memperoleh penghasilan sekitar 1.100 dolar Australia (Rp14.018.037) hingga 1.200 dolar Australia (Rp15.287.028) dalam satu minggu. Jika dihitung dalam satu bulan, pendapatannya sekitar 4.400 dolar Australia (Rp56.072.148).
Menurut Zahid, penghasilan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhannya saat ini. Ia masih dapat membeli makanan, membayar transportasi, mengirimkan uang kepada orang tua, sekaligus menabung.
“Menurut saya itu cukup, mungkin lebih dari cukup, karena saya masih bisa membeli makanan yang saya mau, lalu membayar untuk transportasi, mentransfer uang untuk orang tua juga, dan untuk menabung,” ujarnya.
Namun, Zahid mengingatkan bahwa penghasilan yang terlihat besar ketika dikonversikan ke rupiah tidak selalu berarti seseorang dapat menabung dalam jumlah besar.
“Penghasilan di Australia memberikan kesempatan untuk menabung, tetapi besarnya tabungan sangat bergantung pada pengeluaran masing-masing. Jika kita bisa mendapatkan jam kerja yang cukup dan menjaga pengeluaran tetap terkendali, peluang untuk menyisihkan uang tentu lebih besar,” katanya.
“Namun, penghasilan yang terlihat besar ketika dikonversikan ke rupiah belum tentu berarti kita bisa menabung dalam jumlah besar setiap bulannya. Kita tetap harus membayar biaya hidup di Australia terlebih dahulu,” lanjutnya.
Selama tujuh bulan tinggal di Australia, Zahid menilai biaya hidup di negara tersebut memang cukup tinggi, terutama untuk tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari.
“Menurut pengalaman saya selama tujuh bulan tinggal di Australia, biaya hidup di sini memang cukup tinggi, terutama untuk tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari. Pengeluaran juga sangat bergantung pada gaya hidup dan cara kita mengatur keuangan,” katanya.
Menurut Zahid, seseorang tidak bisa hanya melihat besarnya gaji dalam rupiah tanpa memperhitungkan seluruh kebutuhan yang harus dibayar selama tinggal di Australia.
“Penghasilannya dalam bentuk dolar Australia terlihat cukup besar jika dikonversikan ke rupiah, tetapi kita juga harus mempertimbangkan biaya hidup yang dibayarkan dalam dolar Australia. Jadi, tidak hanya bisa melihat besarnya gaji tanpa menghitung pengeluaran,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kemampuan mengatur keuangan bagi para pendatang yang bekerja di Australia.
“Sebagai pendatang yang bekerja di sini, kita harus pintar mengatur uang agar penghasilan tidak habis hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” Ungkapnya