KORAN MANDALA – Kebiasaan menganggap diri tidak mampu atau terus-menerus menyalahkan diri sendiri ternyata dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya. Pemikiran negatif yang berulang bahkan berpotensi membuat otak semakin mempercayai hal tersebut, meskipun belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena illusory truth effect atau efek ilusi kebenaran. Fenomena ini membuat seseorang cenderung menganggap suatu pemikiran benar ketika terus-menerus diulang.
Dalam utas di akun Threads miliknya, dr. Adam mengingatkan bahwa kebiasaan berbicara kepada diri sendiri atau self-talk perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi pola pikir seseorang.
“Kalau kita sering ‘mengulang’ suatu pemikiran, maka otak kita bisa percaya loh, termasuk pemikiran negatif. Meskipun pemikiran kita itu gak bener,” jelas dr. Adam, dikutip Minggu (1/11/2026).
Ia mengibaratkan mekanisme tersebut seperti jalan setapak di tengah hutan. Semakin sering sebuah jalan dilewati, semakin lebar dan mudah pula jalan itu dilalui.
Hal serupa terjadi pada pola pikir. Pemikiran yang terus diulang akan semakin mudah diakses oleh otak. Akibatnya, seseorang bisa terbiasa memandang dirinya tidak mampu, tidak pintar, atau selalu gagal ketika terus mengulang penilaian negatif tersebut.
Meski demikian, mekanisme pengulangan ini juga dapat dimanfaatkan untuk membangun persepsi diri yang lebih positif. Salah satunya melalui afirmasi positif, yakni membiasakan diri mengulang kalimat yang mendukung kemampuan dan kepercayaan diri.
“Nah untungnya, mekanisme pengulangan ini bisa dipakai untuk hal yang baik bagi diri kita. Misalnya percaya bahwa kita mampu dan pintar,” tambahnya.
Artinya, seseorang dapat mulai mengubah kebiasaan berbicara negatif kepada diri sendiri menjadi kalimat yang lebih membangun. Misalnya, mengganti pernyataan tidak mampu dengan keyakinan bahwa dirinya masih bisa belajar dan memperbaiki kemampuan.
Namun, dr. Adam mengingatkan agar afirmasi positif tidak dibuat secara berlebihan atau terlalu jauh dari kenyataan. Kalimat yang digunakan harus tetap masuk akal agar tidak justru menimbulkan tekanan baru.
“Tapi ingat, afirmasinya tidak bisa yang ‘terlalu jauh’ atau malah tidak masuk akal, karena ujungnya bisa terjadi stres karena disonansi kognitif,” tuturnya.
Karena itu, membangun kepercayaan diri bukan berarti memaksakan diri untuk selalu merasa hebat atau tidak pernah mengalami kegagalan.
Seseorang tetap perlu menerima kekurangan sekaligus menyadari bahwa kemampuan masih dapat dikembangkan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






