ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perjalanan luar biasa lintas dimensi, tetapi momentum penting yang menegaskan nilai kehambaan, keteguhan iman, serta urgensi shalat dalam kehidupan umat Islam.
Hal itu disampaikan AA Abdul Rozak, saat dimintai pandangannya mengenai makna Isra Mi’raj. Menurutnya, peristiwa agung yang terjadi hanya dalam satu malam tersebut sarat dengan pelajaran mendalam yang relevan sepanjang zaman.
“Isra Mi’raj adalah peristiwa istimewa. Di sanalah Rasulullah SAW menerima langsung perintah shalat lima waktu dari Allah SWT, tanpa perantara. Ini menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam Islam,” ujar AA Abdul Rozak, Kamis (15/1/2026).
ADVERTISEMENT
KDM Soroti Lemahnya Pengawasan Lingkungan Usai Kasus Penganiayaan, Farhan Beri Klarifikasi
Ia menjelaskan, dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebut Nabi Muhammad SAW dengan kata ‘abdun’ (hamba) dalam peristiwa Isra, sebagaimana tertuang dalam QS Al-Isra ayat 1. Penyebutan tersebut, kata dia, bukan tanpa makna.
“Derajat kehambaan justru menjadi derajat paling tinggi di sisi Allah. Nabi Muhammad SAW pun memilih menjadi nabi sekaligus hamba, bukan raja. Ini teladan besar bagi umat Islam agar tetap rendah hati dan tunduk sepenuhnya kepada Allah,” katanya.
AA Abdul Rozak menambahkan, Isra Mi’raj juga menjadi bentuk pembekalan spiritual bagi Rasulullah SAW di tengah beratnya ujian dakwah di Makkah, yang dikenal sebagai amul huzni atau tahun kesedihan.
“Setelah berbagai tekanan, kehilangan orang-orang tercinta, dan penindasan kaum Quraisy, Allah menguatkan Rasulullah dengan Isra Mi’raj. Ini menyiapkan beliau menghadapi tantangan dakwah yang lebih besar ke depan,” ujarnya.
Tak hanya itu, lanjutnya, Isra Mi’raj mengajarkan keberanian menyampaikan kebenaran meski berisiko ditolak. Sepulang dari peristiwa tersebut, Rasulullah SAW tetap menyampaikan apa yang dialaminya, meski dicemooh dan diragukan banyak orang.
“Beliau tetap jujur dan teguh menyampaikan kebenaran. Ini pelajaran penting bagi kita semua: sampaikan kebenaran, walau pahit,” tegasnya.
Dalam Isra Mi’raj pula, Rasulullah SAW menjadi imam bagi para nabi terdahulu. Menurut AA Abdul Rozak, hal itu menjadi penegasan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW bersifat universal dan menyempurnakan syariat sebelumnya.
Ia juga menyoroti keistimewaan Masjid Al-Aqsa yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Isra Mi’raj. Masjid tersebut, kata dia, bukan hanya kiblat pertama umat Islam, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.
“Isra Mi’raj menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan akidah umat Islam,” ujarnya.
AA Abdul Rozak menutup dengan menekankan bahwa inti dari peringatan Isra Mi’raj adalah memperkuat komitmen umat Islam terhadap shalat.
“Shalat adalah tiang agama. Jika shalatnya kuat, maka kehidupan spiritual dan sosial seorang Muslim juga akan kokoh,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






