KORAN MANDALA – Safari politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Kota Bandung menarik perhatian publik. Dalam momentum tersebut, Jokowi sempat menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) PSI di kota yang kerap dianggap sebagai salah satu basis PDI Perjuangan.
Pengamat Politik dari Universitas Pasundan (Unpas), Fahmy Iss Wahyudy, menilai langkah politik ini bukanlah bentuk upaya mempertajam rivalitas maupun mempererat antara PSI dan PDI Perjuangan di Kota Bandung.
Menurut Fahmy, karakter pemilih dan peta politik di Kota Bandung cukup berbeda. Dalam beberapa periode terakhir, peta politik Kota Bandung justru lebih didominasi oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
“Di wilayah metropolitan seperti Bandung, Bekasi, dan sekitarnya, kecenderungan pemilihnya adalah kelompok Islam modernis dan konservatif. PDI Perjuangan sendiri di Kota Bandung sudah cukup lama tidak menguasai parlemen, bahkan perolehan kursinya di tingkat DPR RI terus menurun,” ujar Fahmy saat diwawancarai Koran Mandala.
Fahmy menambahkan, irisan pendukung antara PDI Perjuangan dan PSI lebih banyak berada di wilayah-wilayah dengan basis penduduk mayoritas non-Muslim, seperti Nusa Tenggara, Papua, atau Manado, bukan di Jawa Barat.
Oleh karena itu, treatment khusus yang diberikan Jokowi terhadap Kota Bandung memiliki alasan tersendiri. Status Kota Bandung sebagai ibu kota Jawa Barat dinilai memberikan dampak politik yang jauh lebih luas bagi konsolidasi PSI.
Selain faktor geopolitik ibu kota provinsi, keberadaan Dedi Mulyadi (KDM) sebagai tokoh politik dengan elektabilitas tinggi di Jawa Barat juga menjadi daya tarik utama.
“Saya lebih melihat alasan Bandung mendapatkan perhatian berbeda karena statusnya sebagai ibu kota Jawa Barat. Berkampanye di Bandung berpotensi memiliki dampak politik yang lebih besar. Dugaan saya, target utamanya adalah mengaitkan PSI dengan KDM,” jelasnya.
Langkah ini dipandang sebagai strategi PSI untuk mendongkrak perolehan suara nasional yang dalam berbagai survei masih tertahan di angka 1 hingga 2 persen. Dengan mendorong Jokowi turun langsung ke wilayah dengan pemilih besar seperti Bandung dan Jawa Barat, PSI berharap dapat mendongkrak popularitas serta elektabilitas partai secara signifikan.
