KORAN MANDALA – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi sorotan setelah media internasional mengulas rekam jejak serta perjalanannya yang dinilai berpeluang menjadi Presiden Republik Indonesia berikutnya.
Ulasan tersebut dimuat dalam laporan bertajuk “Is this Indonesia’s next president?” yang diterbitkan oleh Financial Times pada 21 September 2026 lalu.
Selain mengulas latar belakang, perjalanan karier, dan gaya kepemimpinannya, laporan tersebut juga membedah keaktifan Dedi Mulyadi di media sosial dalam menjalankan roda pemerintahan di Jawa Barat hingga ia dijuluki sebagai “Gubernur Konten”.
Bahkan, laporan itu mengungkap hasil survei SMRC pada bulan Juli yang menunjukkan elektabilitas Dedi Mulyadi berada di angka 35 persen. Laporan tersebut membandingkannya dengan elektabilitas Presiden RI, Prabowo Subianto, yang tertulis sebesar 14,5 persen.
Laporan Financial Times menilai, dalam simulasi head-to-head, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa 59 persen responden memilih Dedi Mulyadi sebagai presiden, sementara Prabowo Subianto memperoleh 28,3 persen.
Menanggapi kabar tersebut, Pengamat Politik dari Universitas Pasundan, Fahmy Iss Wahyudi, tidak menepis bahwa media sosial saat ini memiliki pengaruh yang sangat kuat di masyarakat terlebih jika dimanfaatkan oleh seorang pejabat publik. Menurutnya, media sosial dapat membantu pemimpin daerah menyampaikan dampak positif secara lebih efektif.
“Saya kira memang sosial media hari ini memiliki pengaruh yang sangat kuat karena punya resonansi yang besar. Apalagi dalam konteks Indonesia yang misalnya masyarakatnya ratusan juta, hampir tidak mungkin misalnya seorang politisi itu bisa menjangkau langsung begitu ratusan juta orang, maksudnya langsung tuh bertatap muka,” kata Fahmy saat dihubungi Koran Mandala, Minggu (27/9/2026).
Terlebih lagi, Fahmy menilai Dedi Mulyadi saat ini tengah menjadi pusat perhatian karena pejabat yang akrab disapa KDM tersebut dinilai sebagai antitesis dari gaya kepemimpinan nasional saat ini. Hal itu tak lepas dari gayanya yang sederhana, merakyat, dan berbeda dari pejabat pada umumnya.
“Saya kira kenapa hari ini KDM mendapatkan spotlight yang begitu besar, ya karena KDM dianggap sebagai apa, antitesis dari kepemimpinan nasional hari ini,” tutur dia.
Fahmy pun membandingkan sosok Dedi Mulyadi dengan Prabowo Subianto. Ia menuturkan bahwa Prabowo saat ini dipersepsikan sebagai sosok pemimpin yang memiliki jarak cukup besar dengan masyarakat, terutamanya karena latar belakang militernya yang elitis.
“Kan banyak yang mungkin Pak Prabowo itu kan bisa dideskripsikan sebagai pemimpin yang berlatar belakang militer, elitis, begitu kemudian juga memiliki jarak yang besar misalnya dengan masyarakat,” tambah Fahmy.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Dedi Mulyadi yang berangkat dari latar belakang masyarakat desa yang sederhana, menjadi seorang aktivis, hingga kini menjabat sebagai kepala daerah.
“Sementara di samping lainnya, KDM itu punya karakteristik yang berbeda. Pertama beliau adalah sipil, kedua misalnya lebih banyak berinteraksi langsung dengan masyarakat, misalnya ketiga juga lebih banyak kebijakan-kebijakan yang dianggap menyelesaikan secara langsung persoalan masyarakat dengan ngasih uang bantuan, segala macam,” beber Fahmy.
Terlebih lagi salah satu faktornya adalah karena Prabowo yang menjabat sebagai Presiden RI saat ini banyak menghasilkan kebijakan bersifat makro.
“Sementara Pak Prabowo hari ini kebijakan-kebijakannya itu banyak yang bersifat makro dalam skala yang besar, jumbo begitu. Ya KDM saya kira di samping media sosial ya karena dianggap sebagai antitesis gitu dari kepemimpinan nasional hari ini yang elitis, agak berjarak, kemudian juga tadi program-program yang skalanya makro,” lanjut dia.
Fahmy menyimpulkan bahwa perbedaan pendekatan dan karakter kepemimpinan inilah yang membuat nama Dedi Mulyadi kian mencuat ke permukaan.
“Sementara KDM programnya berbasis pada penyelesaian-penyelesaian pada skala mikro, kemudian lebih populis, berhubungan langsung dengan masyarakat. Saya kira dua dua argumen tadi yang bisa kita gunakan untuk membaca kenapa KDM begitu populer bukan hanya di tingkat nasional tapi juga mulai dilirik oleh media-media internasional,” Ungkap Fahmy.
