ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Ketua Umum Serikat Sarjana Muslimin Indonesia (SESMI), Prof. Dr. KH. Asep Achmad Hidayat, menyesalkan tayangan video di salah satu program Trans7 yang dinilainya telah melakukan framing negatif terhadap dunia pesantren.
Ia menilai, pemberitaan tersebut tidak utuh dan justru mencederai perjuangan pesantren yang memiliki peran besar dalam sejarah bangsa Indonesia.
“Video-video yang diframing itu sangat disesalkan, apalagi dilakukan oleh stasiun televisi besar seperti Trans7 yang sudah populer di masyarakat,” ujar Prof. Asep dalam keterangannya, di sela acara wisuda ketiga STAI KH.Badruzaman Garut, tempat dirinya juga menjabat sebagai anggota Senat Profesor.
ADVERTISEMENT
Fraksi PKB Kota Bandung Pasang Badan untuk Pesantren: Indri Rindani Nilai Kritik Atalia Tidak Tepat
Menurutnya, tayangan tersebut bukan sekadar kesalahan teknis atau editorial, melainkan sudah mengandung unsur kesengajaan.
“Kalau dilihat dari teori framing, khususnya dari perspektif kritisisme Habermas, jelas ada motif di balik itu. Ini bukan sekadar kekeliruan, tapi disengaja,” tegasnya.
Prof. Asep menilai, framing negatif terhadap pesantren berpotensi merusak citra lembaga pendidikan Islam yang justru menjadi salah satu tiang utama bangsa.
Ia menekankan bahwa pesantren sejak dahulu berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan, pembentukan moral bangsa, serta pendidikan karakter umat.
“Pesantren itu bukan hanya lembaga pendidikan, tapi juga benteng moral bangsa. Sebelum Indonesia merdeka, pesantren sudah berjuang mencerdaskan kehidupan rakyat dan mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, sangat disesalkan kalau ada media yang memelintir citra pesantren,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Prof. Asep mendesak pemilik Trans7, chairul tanjung, untuk turun tangan langsung mengusut masalah ini. Ia meminta agar direktur dan kru program yang terlibat segera diberhentikan.
“Saya minta kepada chairul tanjung agar memecat direkturnya atau kru yang membuat konten tersebut. Tayangan itu sudah membuat sakit hati seluruh umat Islam, bukan hanya kalangan pesantren,” tegasnya.
Selain meminta pemecatan, Prof. Asep juga mendesak Trans7 untuk memberikan klarifikasi publik dan menayangkan liputan yang berimbang tentang kehidupan pesantren.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






