ADVERTISEMENT
Oleh: Widi Garibaldi
Menjelang pemerintahannya yang hampir berusia dua tahun, dengan “menepuk dada”, baru baru ini Presiden Prabowo membeberkan keberhasilannya selama memimpin negara berpenduduk 290 juta ini. Lebih dari 110 macam keberhasilan menurutnya, sudah tercapai. Mulai dari swa sembada beras hingga kemampuan membuat solar dari kelapa sawit sehingga kita tak perlu lagi mengimpor bahan bakar tersebut.
“Keberhasilan” itu disampaikannya sebagai taklimat Presiden kepada para pembantunya, anggota kabinet Merah Putih yang sangat gemuk itu. Mungkin sekali Presiden menganggap bahwa para pembantunya perlu diberi pemicu agar lebih bersemangat dalam melaksanakan tugas.
Seperti menghadapi anak kecil, Presiden menganggap perlu mengiming imingi mereka agar bekerja lebih keras lagi.
ADVERTISEMENT
Tak konsisten
Bagi masyarakat,taklimat yang disampaikan Presiden dalam sidang kabinet paripurna itu, terasa “biasa biasa” saja. Sudah seharusnya demikian. Tak ada yang terlalu istimewa. Soalnya, sudah 81 tahun negara ini mengecap kemerdekaan. Sudah lebih dari 80 tahun kita lepas dari penjajahan.
Sudah lebih dari 80 tahun kita diberi waktu oleh Yang Maha Kuasa untuk menentukan nasib sendiri. Mau menjadi negara yang adil dan makmur atau tidak. Malangnya, keinginan untuk menjadi negara yang adil dan makmur itu, hingga kini tak mampu kita wujudkan. Baru sebatas tertulis dalam konstitusi belaka.
Untuk mewujudkannya memang dibutuhkan kerja keras. Banting tulang. Paling tidak, satunya kata dan perbuatan. Hal inilah yang belum nampak dalam taklimat Presiden itu.
Dalam pemberantasan korupsi misalnya, Presiden nampak begitu garang di bulan bulan pertama pemerintahannya. Ia ingin mendirikan penjara khusus di pulau terpencil, bagi para koruptor. Seperti penjara Alcatraz di AS, tempat penjahat ulung Al Capone dikucilkan.
Sehebat apapun penjahatnya, pasti tak akan mau melarikan diri karena ikan hiu menghadang di pantai. Sayang, angan-angan Presiden untuk mendirikan penjara khusus itu telah sirna tak pernah terdengar lagi. Juga dalam taklimat kepada para pembantunya itu.
Belum setahun menjadi Presiden, ternyata Prabowo sudah berubah arah dalam pemberantasan korupsi, yang ditengarai sebagai musuh nomor satu bangsa.
Kalau pada awal pemerintahannya ia nampak demikian tegas, kini ia memandang korupsi sebagai penyakit kanker. Kalau tangan kena kanker, tak perlu dipotong. Cukup diobati saja.
Dengan harapan penyakitnya akan sembuh. Karena itu tak perlu risau kalau penanganan terhadap korupsi yang dipersangkakan kepada Jampidsus Kejaksaan Agung demikian bertele-tela. Masyarakat boleh bertanya-tanya mengapa ia belum juga ditahan.
Masyarakat dipersilakan menebak nebak milik siapa 74 kg emas batangan yang disita dari rumahnya di Sentul. Begitu juga dengan mata uang dalam bentuk dollar. Baik Singapura maupun AS yang bernilai ratusan miliar rupiah.
Semoga taklimat Presiden itu tak membuat “kiamat” pemberantasan korupsi di Indonesia***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






