Oleh: Widi Garibaldi
Ceasefire yang meredakan sementara perang antara AS-Israel vs Iran, berakhir sudah. Upaya Pakistan di Islamabad untuk mendamaikan kedua belah pihak yang sedang bersiteru, menemui jalan buntu. Akibatnya, kedua negara agresor, AS dan Israel, siap-siap untuk angkat senjata lagi.
Donald Trump, Presiden AS yang memulai perang, tentu kini sedang mengkalkulasi apakah perang akan dilanjutkan atau damai yang diutamakan. Maklum, Donald Trump itu seorang business man. Tentu saja sebelum memulai sesuatu ia selalu berhitung untung rugi.
Kerugian yang diderita AS dalam perang melawan Iran selama 39 hari ini, bukan sedikit. 37 pesawat tempurnya rontok, ditembak Iran. Begitu juga dengan Drone-nya.Tak kurang dari 24 unit. Belum lagi termasuk radar pertahanan dan jet tempur F-15E yang canggih.
Tak terkecuali jet siluman F-35 yang menakjubkan itu terpaksa mendarat darurat karena jadi sasaran Iran. Alhasil, kalau ditotal tak kurang dari Rp200 triliun harus dikeluarkan oleh Donald Trump akibat ulahnya. Bagi Paman Sam, negara adi daya itu, mungkin jumlah kerugian itu tak seberapa.
Tetapi bagaimana dengan jiwa tentara AS yang melayang ? Tak kurang dari 15 orang. Sedang yang menderita luka tercatat 538 orang.
Akan halnya Israel, ternyata mengalami kerugian yang amat signifikan. Rudal-rudal Iran menghantam fasilitas nuklirnya di Arak,Tabriz,Natanz dan Isfahan. Belum lagi ibu kota Israel Tel Aviv yang digempur habis-habisan oleh aneka macam rudal yang ditembakkan dari Iran.
Blokade selat Hormuz ?
Memblokade selat Hormuz mungkin adalah “troef kaart” yang dipunyai Donald Trump. Ia bersiap-siap untuk memerintahkan Angkatan Lautnya untuk memblokir selat yang mengalirkan 20 % dari minyak dunia itu.
Betapapun hebatnya kapal-kapal induk yang dimilikinya, Iran tentu tak akan tinggal diam. Negara Islam itu pasti akan memperlihatkan kepada Dunia bahwa Iran adalah negara Persia yang sudah teruji selama ratusan tahun.
Bagi Donald Trump pribadi, mengakhiri perang melawan Iran ini sungguh sangat penting. Ia tentu akan berusaha keluar sebagai pemenang. Paling tidak, perang diakhirinya tanpa kehilangan muka.Maklum, tahun 2028, ia akan mengakhiri jabatan sebagai Presiden AS. Apabila kalkulasinya meleset, pemakzulannya sebagai Presiden AS sudah menanti.
“Aman” hingga akhir jabatan yakni 2028, penting bagi Trump. Soalnya ia tidak mungkin lagi mencalonkan diri sebagai Presiden AS untuk ketiga kalinya. Amandemen ke-22 Konstitusi AS sudah menetapkan bahwa seseorang hanya dapat menjadi Presiden di negara Paman Sam itu sebanyak 2 kali. Dan Trump telah memenangi pemilihan Presiden pada tahun 2024 yang lalu untuk kedua kalinya.
Menjelang 2028 ini, rakyat AS sendiri menyaksikan betapa Presiden-nya mengacak acak negara lain hanya karena ingin membuktikan bahwa slogannya “Make America Great Again” menjadi kenyataan. Karena itu, baru baru ini mereka turun ke jalan dengan membawa slogan-slogan “No King”, untuk menunjukkan bahwa AS adalah negara demokrasi bukan monarki.
Bagi kita sendiri, di negeri tercinta ini, slogan yang dibawa oleh para demonstran di AS itu punya makna yang patut diteladani***
