Oleh: Widi Garibaldi
Ketika sedang asyik-asyiknya memanfaatkan media sosial untuk mendulang suara dan uang, Dedi Mulyadi yang kemudian berhasil menjadi Gubernur provinsi Jawa Barat itu tiba pada suatu simpulan betapa rendahnya kemampuan anak didik di daerah yang berpenduduk sekitar 50 juta ini. “ Payah budak SMA ayeuna mah…”, begitu ia berkomentar, ketika seorang remaja puteri yang ditanyainya tidak dapat menjawab pertanyaan 2 x 12. Angka 24 sebagai hasil perkalian pertanyaan itu tidak pernah meluncur dari mulut sang gadis. Ia melongo, tak bisa menjawab. Jawaban mudah hasil pertanyaan sepele itu, baginya merupakan pertanyaan berat yang memaksanya berpikir ekstra keras tetapi tak membuahkan hasil.
Tidaklah mengherankan kalau banyak di antara remaja kita kini tak lagi menguasai matematik. Kalau dulu para remaja itu diajari cara membaca dan menulis yang benar, sekarang mereka menganggapnya sebagai hal yang tak bermanfaat. “Buat apa belajar membaca,menulis dan berhitung, kalau semuanya dengan mudah diperoleh dengan bantuan Gawai ?” Untuk mengetahui hasil 2 x 12 tinggal minta bantuan kalkulator yang tersedia. Kalkulator akan menjawabnya, kendati sesulit apapun pertanyaan. Memang, si Pengguna Gawai tak perlu “memeras tenaga dan otak” untuk mendapat jawaban apapun. Semuanya serba cespleng. Bakal terjawab secara instan.
Kemajuan tekhnologi komunikasi telah menciptakan peranti canggih ini.Melalui alat yang amat praktis itu kita dapat berkomunikasi dengan apa dan siapapun di belahan bumi manapun. Platform yang memanfaatkan tekhnologi canggih itu tentu berusaha maksimal untuk menyediakan aneka pelayanan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan si Pengguna. Tentu saja kebutuhan para Pengguna itu tidak sama. Ada yang butuh hiburan. Ada juga yang butuh pengetahuan praktis. Semua dalam konteksnya yang positif dan negatif. Inilah yang tidak mampu disaring oleh para remaja itu. Akhirnya mereka terpapar acara-acara sampah. Pornografi misalnya. Bahkan ada yang terpapar terorisme,pengetahuan praktis yang mereka peroleh dari Gawai tadi.
Pengguna Gawai terbanyak
Kalau dihitung hitung, tak kurang dari 187,7 juta manusia Indonesia tercatat sebagai pengguna smartphone, temuan baru di bidang tekhnologi komunikasi itu. Artinya, kita menduduki pengguna Gawai terbanyak nomor 4 di seluruh dunia, setelah Cina,AS dan India. Tetapi dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia juaranya. Dalam hitungan yang lebih rinci, tak kurang dari 40 % penduduk RI terdiri dari mereka yang berusia belia. Yang berusia 5-9 tahun tercatat lebih dari 22 juta jiwa. 10-14 tahun hampir 22 juta orang. Sedang yang berusia 15-19 tahun lebih dari 22 juta. Untuk melindungi mereka dari pengaruh negatif Gawai yang “mempesona” itu, baru-baru ini Pemerintah telah memberlakukan peraturan No. 17/2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Intinya, mereka yang berumur di bawah 16 tahun dilarang menggunakan perangkat Gawai. Nah, implementasinya tentu dibutuhkan pengawasan dari para orang tua, keluarga dan guru agar belia kita terhindar dari konten-konten yang merusak.
Tanpa pengawasan yang ketat, peraturan itu hanya indah di atas kertas. Tak bermanfaat !***
