Opini

PERINTAH SIAPA …?

Oleh: Widi Garibaldi

Air keras. Begitu kita yang awam mengenalnya.Bahasa kerennya, aqua regia. Bukan airnya yang keras,tapi air itu terdiri dari campuran asam nitrat dan klorida yang dapat menghancurkan benda keras seperti logam. Apalagi kalau terkena jaringan hidup. Katakanlah kulit atau mata. Pasti terbakar. Mata jadi buta.

Itulah yang dialami oleh Novel Baswedan sembilan tahun yang lalu. Tepatnya tanggal 11 April 1917. Selepas sholat subuh di masjid Al Ihsan Kelapa Gading Jakarta Utara tiba-tiba ia dihampiri 2 orang bersepeda motor. Keduanya menghampiri Penyidik KPK itu, lalu menyiramkan air keras ke mukanya. Setelah melampiaskan perbuatan jahatnya, kedua pelaku melarikan diri. Air keras itu mengakibatkan muka Novel mengalami luka bakar. Mata kirinya, buta.Mengalami cacat permanen, kendati kemudian diobati di Singapura.

Memang, maksud si Pelaku bukan untuk membunuh tetapi “sekedar” memberi peringatan dengan membuat cacat si korban. Maksudnya agar sang korban jera. Karena itu, mudah ditebak bahwa di belakang si Pelaku pasti ada lembaga terorganisir.

ADVERTISEMENT

Sayang, dugaan ini tidak pernah dibuktikan karena si Pelaku, yang terdiri dari dua angota Polisi aktif, tiba-tiba pasang badan. Mereka mengaku melakukan perbuatannya atas inisiatif sendiri. Tidak ada yang memberi perintah. Keduanya dituntut dan dihukum penjara diiringi cemoohan masyarakat yang menganggap adanya permainan di balik vonis pengadilan.

Kejanggalan ini berlalu begitu saja. Tak ada usaha Pemerintah untuk menyingkap tabir di balik peristiwa itu. Mungkin sekali karena tak ada perintah dari Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang pada waktu itu dijabat oleh Jokowi.

Aktor intelektual

Apa yang dialami oleh Novel Baswedan, sembilan tahun kemudian berulang kembali. Tanggal 12 Maret yang lalu, aktivis Kontras Andrie Yunus yang sedang mengendarai motornya di jalan Talang Salemba Jakarta Pusat, tiba-tiba diikuti oleh pemotor lainnya. Tanpa disadarinya pengendara motor itu menyiramkan air ke mukanya. Bukan sembarang air, tetapi air keras yang membakar wajahnya. Tentu saja Andrie melolong kesakitan karena air keras itu juga membakar matanya.

“Untung”lah, Presiden Prabowo mengambil alih persoalan dan memerintahkan agar penyiraman air keras itu segera diusut, dengan alasan perbuatan seperti itu adalah perbuatan teror dan perbuatan biadab. Maklum, karena ada perintah Presiden, penegak hukum terbirit birit mulai mengusut. Belum lagi pihak Keplolisian mengumumkan hasil kerjanya, masyarakat sudah disuguhi informasi oleh TNI bahwa perbuatan jahat itu dilakukan oleh 4 orang anggota TNI dari AU dan AL. Keempatnya kini ditahan untuk disidangkan pada waktunya.

Kalau aktor intelektual penyiram air keras terhaadap Novel Baswedan tak pernah diketahui secara resmi mungkin dapat dimaklumi oleh masyarakat. Bukankah Presiden Jokowi tak hirau akan persoalan tersebut ? Lain halnya dengan penyiraman air keras yang dialami oleh Andrie. Harus menunggu perintah siapa lagi kalau perintah Presiden saja tak dilaksanakan ? Masyarakat menuntut informasi sejelas jelasnya. Siapa aktor intelektual di balik perbuatan biadab itu***

Published by

Recent Posts

Gol Menit Akhir Mitkov Bikin Persib Tersungkur di Markas Madura

KORAN MANDALA –Persib Bandung harus pulang tanpa poin setelah kalah 0-1 dari Madura United pada…

5 menit ago

Aksi Kamisan Cimahi Jadi Ruang Kritik dan Aspirasi Warga

KORAN MANDALA – Aksi Kamisan Cimahi jilid kedua digelar di Alun-Alun Kota Cimahi, Kamis (22/10/2026).…

19 menit ago

Hari Santri Nasional, Sekda Garut Tekankan Peran Santri Menuju Indonesia Emas

KORAN MANDALA – Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober menjadi momentum untuk…

2 jam ago

Sumur Warga Mengering, Krisis Air Bersih Melanda Cipageran Cimahi

KORAN MANDALA –Krisis air bersih melanda kawasan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, seiring musim…

3 jam ago

Bau Sampah Ganggu Warga Sindangsari, TPS Dibangun Tanpa Musyawarah

KORAN MANDALA –Tumpukan sampah di Kampung Warungkandang, Desa Sindangsari, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, dikeluhkan warga…

4 jam ago

Dibangun untuk Pelatihan Kerja, BLKK Purwakarta Kini Jadi Dapur MBG

KORAN MANDALA – Bangunan Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) di lingkungan Pesantren Manbaul Ulum Assalafiyah,…

5 jam ago