KORAN MANDALA –Setiap Agustus, jalan kampung, halaman sekolah, kompleks perumahan hingga ruang publik berubah menjadi arena perlombaan. Anak-anak berebut kerupuk yang digantung, sementara sekelompok warga berusaha menaklukkan batang pinang licin demi hadiah di puncak.
Tawa pecah. Penonton bersorak. Peserta saling menyemangati.
Panjat pinang dan makan kerupuk seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, di balik kemeriahan itu, muncul pertanyaan yang sesekali kembali beredar: benarkah sejumlah lomba 17 Agustus menyimpan sejarah penghinaan terhadap rakyat Indonesia pada masa kolonial?
Pertanyaan tersebut menjadi menarik karena panjat pinang memang memiliki jejak sejarah pada masa Hindia Belanda. Tetapi, apakah sejarah itu cukup untuk menyebutnya sebagai permainan yang sejak awal dirancang untuk merendahkan pribumi?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana narasi yang beredar.
Ketika Pribumi Menjadi Peserta, Orang Belanda Menjadi Penonton
Sejarawan Bandung, Irfan Iskandar, mengatakan panjat pinang memang diperkenalkan pada masa kolonial. Dalam konteks tersebut, masyarakat pribumi menjadi peserta, sementara orang-orang Belanda menjadi penonton.
Menurut Irfan, panjat pinang pada masa itu digunakan sebagai hiburan. Hadiah yang diperebutkan antara lain berupa bahan kebutuhan pokok yang memiliki nilai bagi masyarakat pribumi.
“Tujuannya memang untuk hiburan orang-orang Belanda, melihat pribumi,” ujar Irfan.
Dalam konteks kolonial, posisi sosial antara peserta dan penonton tentu tidak dapat dilepaskan dari struktur masyarakat Hindia Belanda yang diskriminatif. Namun, sejarah permainan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa panjat pinang sengaja diciptakan sebagai bentuk penghinaan.
Irfan justru memberikan catatan penting terhadap klaim yang selama ini beredar di ruang publik, termasuk narasi bahwa peserta pribumi dibuat memanjat seperti monyet agar ditertawakan orang Belanda.
Ia mengaku belum menemukan sumber sejarah primer yang dapat memvalidasi klaim tersebut.
“Kalau itu saya kurang tahu tentang klaim itu. Kan sejarah itu harus ada sumber datanya,” katanya.
Menurutnya, dalam penelitian sejarah, sebuah narasi tidak cukup hanya karena berulang kali diceritakan. Narasi harus diuji melalui sumber, diverifikasi, kemudian diinterpretasikan.
Dengan kata lain, ada perbedaan antara fakta bahwa panjat pinang pernah menjadi hiburan pada masa kolonial dengan klaim bahwa permainan tersebut sejak awal dirancang sebagai penghinaan terhadap pribumi.
Dua hal itu tidak otomatis sama.
Sejarah yang Berubah Ketika Kemerdekaan Datang
Panjat pinang tidak berhenti pada konteks kolonial. Setelah Indonesia merdeka, permainan tersebut mengalami perubahan makna. Jika sebelumnya berlangsung dalam konteks hiburan masyarakat kolonial, setelah kemerdekaan panjat pinang menjadi bagian dari hiburan rakyat dan perayaan kemerdekaan.
Irfan menyebut perubahan tersebut sebagai pergeseran makna. Permainan yang sama dapat memiliki arti berbeda ketika dimainkan dalam konteks sosial yang berbeda.
Dalam perayaan kemerdekaan, panjat pinang kemudian dikaitkan dengan kerja sama, gotong royong, kerja keras dan perjuangan untuk mencapai tujuan.
“Maknanya kalau menurut saya itu berbeda,” kata Irfan.
Pergeseran tersebut membuat panjat pinang hari ini tidak dapat begitu saja dipahami menggunakan kacamata masa kolonial.
Bahkan, Irfan menilai menyebut panjat pinang hari ini semata-mata sebagai “warisan kolonial” justru berpotensi menyederhanakan perjalanan sejarahnya.
“Setiap generasi punya sejarahnya masing-masing, setiap generasi punya penafsiran masing-masing terhadap masa lalu,” ujarnya.
Dari Kita, Oleh Kita, untuk Kita
Pandangan serupa disampaikan Prof. Cecep Darmawan, pengamat pendidikan dan kebijakan publik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Menurut Cecep, dalam konteks masyarakat hari ini, panjat pinang lebih dominan dipahami sebagai hiburan. Namun, permainan tersebut tidak berarti kehilangan nilai pendidikan.
Justru di dalam proses mencapai hadiah di puncak, terdapat sejumlah nilai karakter yang dapat ditanamkan kepada peserta.
Ada orang yang menjadi fondasi di bawah. Ada peserta yang berada di tengah. Ada pula mereka yang memiliki kelincahan untuk mencapai puncak. Semua membutuhkan strategi dan koordinasi.
“Sebetulnya selain nilai hiburan, panjat pinang itu butuh pola kolaborasi, kerja sama,” ujar Cecep.
Menurut dia, permainan tersebut juga mengajarkan disiplin, kegigihan, sportivitas, keberanian, pantang menyerah dan kemampuan mengendalikan ego.
Seseorang yang berhasil mencapai puncak pun tidak berdiri sendiri. Ia dapat sampai ke atas karena ada orang-orang lain yang menjadi penopang.
Karena itu, keberhasilan dalam panjat pinang semestinya tidak hanya dinikmati oleh orang yang berhasil mengambil hadiah.
Ada nilai berbagi di dalamnya. Cecep bahkan menggambarkan perubahan konteks itu secara sederhana: jika dahulu masyarakat pribumi menjadi peserta sementara orang Belanda menjadi penonton, kini siapa pun dapat menjadi peserta maupun penonton.
“Dari kita, oleh kita, untuk kita sekarang,” katanya.
Dalam konteks itulah, Cecep menilai tidak tepat jika panjat pinang hari ini semata-mata dianggap sebagai bentuk penghinaan hanya karena pernah hadir dalam masyarakat kolonial.
Tetapi Sejarah Tidak Boleh Dihapus
Perubahan makna bukan berarti sejarah harus dilupakan. Justru menurut Irfan, masyarakat perlu mengetahui konteks sejarah sebuah tradisi.
Apa yang terjadi hari ini merupakan bagian dari perjalanan masa lalu. Karena itu, tugas generasi sekarang bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi memahami bagaimana tradisi tersebut berubah.
“Memaknai secara kontekstual,” kata Irfan.
Ia berharap nilai kerja sama dan gotong royong yang terdapat dalam panjat pinang tidak hanya muncul selama satu hari dalam setahun.
Sebab, jika permainan hanya berhenti sebagai hiburan, nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya akan hilang begitu perlombaan selesai.
Panjat pinang semestinya menjadi gambaran bahwa keberhasilan seseorang tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri.
Ada kerja tim. Ada orang yang menjadi penopang. Ada strategi. Ada kegigihan. Dan ada kewajiban untuk berbagi ketika berhasil.
Makan Kerupuk dan Cerita tentang Masa Sulit
Jika panjat pinang memiliki jejak sejarah yang berbeda, makan kerupuk memiliki cerita lain.
Irfan mengatakan kerupuk berkaitan dengan kondisi krisis ekonomi dan pangan yang dialami masyarakat pada masa sebelum dan sekitar awal kemerdekaan.
Kerupuk menjadi makanan yang relatif terjangkau bagi masyarakat.
Karena itu, menurutnya, lomba makan kerupuk yang kemudian berkembang setelah kemerdekaan dapat dibaca sebagai simbol yang mengingatkan masyarakat pada masa sulit.
Sumber lain juga menyebut lomba makan kerupuk mulai dikenal dalam perayaan HUT RI sekitar 1950-an, setelah Indonesia melewati periode perang dan krisis ekonomi.
Namun sekali lagi, tidak terdapat dasar dalam wawancara Irfan untuk menyebut lomba makan kerupuk diciptakan sebagai bentuk penghinaan terhadap rakyat Indonesia.
“Enggak ada sih, sepengetahuan saya,” kata Irfan ketika ditanya mengenai bukti bahwa lomba makan kerupuk diciptakan sebagai penghinaan.
Dengan demikian, memasukkan panjat pinang dan makan kerupuk ke dalam satu kategori sebagai “lomba penghinaan warisan penjajah” justru berisiko mengaburkan perbedaan sejarah keduanya.
Antara Kritik dan Tradisi
Perdebatan tentang lomba 17 Agustus sebenarnya tidak harus berujung pada pertanyaan apakah tradisi tersebut harus dipertahankan atau dihentikan.
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apa makna yang kita tanamkan ketika tradisi itu dimainkan?
Cecep menilai panitia memiliki peran penting.
Panjat pinang, misalnya, seharusnya tidak hanya dimulai dengan aba-aba untuk memanjat. Peserta juga dapat diberi pemahaman bahwa permainan tersebut mengandung nilai kerja sama, kolaborasi, sportivitas dan pantang menyerah.
Aspek keselamatan juga tidak boleh diabaikan. Batang yang terlalu tinggi, penggunaan bahan yang membahayakan tubuh, atau peserta yang memaksakan diri justru bertentangan dengan tujuan menjadikan lomba sebagai hiburan yang sehat.
Cecep menyarankan permainan dibuat aman, terjangkau dan tidak membahayakan kesehatan peserta.
Dengan begitu, kemeriahan tidak berdiri berlawanan dengan pendidikan. Keduanya justru dapat berjalan bersama.
Merebut Kembali Makna
Pada akhirnya, mungkin persoalan terbesar bukan pada batang pinang, kerupuk, atau perlombaan itu sendiri.
Persoalannya adalah bagaimana masyarakat memahami sejarah di baliknya. Sebuah permainan dapat lahir dalam satu konteks, kemudian hidup dalam konteks yang berbeda.
Panjat pinang yang dahulu dimainkan dalam masyarakat kolonial kini menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan. Penonton dan peserta tidak lagi dibatasi oleh struktur kolonial. Nilainya pun dapat ditafsirkan kembali sebagai gotong royong dan kerja sama.
Dalam pandangan Irfan, tradisi yang memiliki akar kolonial tidak otomatis harus dihentikan.
“Enggak perlulah, enggak perlu dihentikan, tinggal kita maknai saja,” ujarnya.
Sejarah, dengan demikian, bukan alasan untuk membuang sebuah tradisi. Sejarah justru menjadi alat untuk memahami bagaimana bangsa Indonesia mengubah makna dari apa yang diwarisinya.
Dan mungkin di situlah makna kemerdekaan yang sebenarnya: bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menentukan sendiri arti sebuah tradisi.
Batang pinang yang dulu menjadi tontonan, kini dipanjat oleh masyarakat sendiri. Hadiah yang dulu diperebutkan karena kebutuhan, kini menjadi bagian dari kegembiraan.
Kerupuk yang pernah menjadi makanan sederhana di tengah masa sulit, kini digantung dan diperebutkan sambil diiringi tawa.
Yang berubah bukan hanya permainannya. Yang berubah adalah siapa yang menentukan maknanya. (Wistia adi dan Sufyan Al Ansory)
