KORANMANDALA.COM – Di sudut Jalan Trunojoyo, Kota Bandung, ada bangunan yang kini ramai diperbincangkan anak muda. Bukan lagi karena dentuman musik atau gemerlap lampu malam seperti masa lalunya, melainkan suara azan yang memanggil orang-orang datang bersujud.
Siapa sangka, bangunan yang dahulu dikenal sebagai tempat hiburan malam kini berubah total menjadi ruang ibadah. Namanya kini Masjid Jaza tempat yang bukan hanya menghadirkan sajadah dan saf salat, tetapi juga menawarkan ruang aman, nyaman, bahkan “gaul” bagi generasi muda Kota Bandung.
Transformasi itu terasa seperti potret kecil perubahan zaman. Dari ruang yang dulu identik dengan hiburan malam, kini lahir tempat yang mengajak orang berhenti sejenak, menenangkan diri, lalu kembali menemukan makna.
Soni Daniswara Ingatkan Dampak Aturan Full Day pada SPMB 2026 di Kota Bandung
Masjid Jaza mulai beroperasi sejak 10 April 2026. Tak butuh waktu lama, namanya melesat di media sosial. Video-video tentang masjid ini berseliweran di TikTok hingga Instagram, masuk FYP, dan memantik rasa penasaran warga Bandung.
Banyak orang datang bukan hanya untuk melihat seperti apa rupa masjid yang dulunya bar, tetapi juga karena kebutuhan sederhana yang selama ini sulit ditemukan di kawasan Trunojoyo: tempat salat yang layak dan nyaman.
“Historisnya tempat ini dulunya bar. Tapi karena di area Trunojoyo sangat jarang masjid akhirnya muncul inisiatif dari para pengusaha untuk menghadirkan masjid agar para pegawai dan masyarakat lebih mudah beribadah,” ujar Takmir Masjid Jaza, Ari Prianto, saat dikonfirmasi, Senin (26/5/2026).
Di balik nama “Jaza” ternyata tersimpan doa. Nama itu diambil dari kalimat Jazakallah Khairan Katsiran, yang berarti semoga Allah membalas kebaikanmu. Sebuah filosofi yang seolah menjadi napas dari keberadaan masjid ini: menghadirkan manfaat di tengah hiruk-pikuk kota.
Masjid ini memang tak tampil seperti masjid kebanyakan. Memasuki ruangannya, pengunjung akan menemukan suasana modern dan nyaman. Pendingin ruangan terpasang, televisi tersedia, dan di salah satu sudut terdapat pantry kecil berisi kopi serta teh gratis bagi jemaah.
Konsepnya sederhana tapi mengena: membuat anak muda merasa dekat dengan masjid, bukan canggung.
“Kita ingin anak muda nongkrongnya di masjid. Jadi ada tempat santai, ada kajian dan ada ruang komunitas juga,” kata Ari.
Gagasan itu bukan sekadar wacana. Ke depan, area bawah bangunan akan disulap menjadi coffee shop dan food court. Menariknya, sebagian keuntungan usaha tersebut akan dialokasikan untuk operasional dan wakaf masjid.
Masjid Jaza juga mulai menjelma menjadi ruang pertemuan komunitas. Dari kajian keislaman, kegiatan street run, hingga aksi sosial bertajuk Jalur Jaza, semuanya dirancang agar masjid terasa hidup dan dekat dengan denyut keseharian anak muda Bandung.
Lewat program itu, kolaborasi dengan komunitas dan pelaku usaha dilakukan untuk menghadirkan kegiatan sosial seperti Jumat Berkah, dukungan UMKM hingga makan siang gratis bagi jemaah.
Di tengah tren anak muda mencari tempat nongkrong estetik, Masjid Jaza tampaknya menawarkan definisi baru tentang ruang berkumpul: nyaman, hangat, tetapi tetap sarat makna.
Antusiasme warga pun di luar dugaan. Di pekan pertama pelaksanaan salat Jumat, lantai atas masjid bahkan tak mampu lagi menampung jemaah.
“Di minggu pertama saja area atas tidak cukup untuk Jumatan. Sampai sekarang pun selalu penuh,” tutur Ari.
Saat ini, area lantai atas mampu menampung sekitar 150 hingga 200 jemaah. Sementara saat salat Jumat, kapasitas meningkat hingga 300 sampai 400 orang dengan memanfaatkan area bawah bangunan.
Dalam waktu dekat, Masjid Jaza juga akan menggelar Muslim Fun Gigs pada 11–14 Juni 2026 dengan melibatkan berbagai komunitas serta menghadirkan ustaz nasional maupun lokal Bandung.
Masjid Jaza mungkin hanya sebuah bangunan di tepi jalan kota. Namun di balik temboknya, tersimpan cerita yang lebih besar: tentang perubahan, tentang ruang kedua bagi anak muda, dan tentang bagaimana sebuah tempat yang dulu dipenuhi gemuruh malam kini perlahan digantikan lantunan doa.
