KORAN MANDALA –Telkom University (Tel-U) mendorong penguatan ekosistem kabel bawah laut Indonesia di tengah pesatnya pertumbuhan trafik data dan ekspansi layanan digital di kawasan Asia-Pasifik (APAC).
Dorongan tersebut mengemuka dalam gelaran Connexus 2026: Limitless Waves (Bandung Series) yang digelar pada 3–4 September 2026 di Gedung Bangkit, Tel-U.
Kegiatan ini menjadi bagian dari aktivasi Subsea Ecosystem Development Program (SEDP) dengan dukungan XLSmart dan Omadata sebagai sponsor.
BRT Bandung Tetap Jalan Meski Dipersoalkan, Wali Kota Akui Banyak Tantangan
Connexus 2026 mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem kabel bawah laut, mulai dari pemerintah, regulator, operator telekomunikasi, penyedia teknologi, asosiasi industri, lembaga internasional hingga perguruan tinggi.
Sejumlah pihak yang terlibat di antaranya Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Telkom Indonesia International (Telin), Telkom Infra, Asosiasi Kabel Laut Seluruh Indonesia (ASKALSI), Tim Nasional Pengelolaan Penyelenggaraan Kabel Bawah Laut, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ISD Council, NEC, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), World Bank, serta Center of Excellence Connected Tel-U.
Pertumbuhan kebutuhan konektivitas digital di kawasan APAC membuat posisi Indonesia semakin strategis sebagai salah satu simpul infrastruktur kabel bawah laut.
Namun, penguatan posisi tersebut tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur fisik dan teknologi, tetapi juga kesiapan regulasi serta ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
Kondisi itu menjadi salah satu fokus utama Connexus 2026. Forum tersebut membahas tantangan dan peluang pengembangan infrastruktur kabel bawah laut sekaligus mendorong lahirnya talenta yang mampu menopang kebutuhan industri subsea, baik di tingkat nasional maupun regional.
Ketua Panitia Connexus 2026, Lia Yuldinawati, Ph.D., mengatakan agenda di Bandung menjadi tahap awal dari rangkaian program strategis pengembangan talenta digital untuk mendukung industri subsea di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik.
“Bandung menjadi pembuka dari seluruh agenda strategis pengembangan talenta digital pendukung industri subsea di Indonesia dan kawasan. Kick-off di Bandung ini memvalidasi arah SEDP melalui diskusi panel dan pelatihan teknis. Setelah ini, program akan berlanjut dengan pelatihan berbasis kampus di Tel-U dan agenda strategis penutup di Batam,” ujar Lia.
Agenda Connexus 2026 menghadirkan pembicara dari pemerintah, industri, akademisi, serta lembaga internasional. Kegiatan diawali dengan keynote dan pemaparan strategis oleh Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Denny Setiawan, S.T., M.T.
Selain itu, World Bank dan perwakilan Direktorat Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi turut memberikan pemaparan mengenai arah pengembangan infrastruktur digital.
Pembahasan kemudian berlanjut melalui tiga panel utama yang mengupas berbagai persoalan strategis dalam pengembangan ekosistem kabel bawah laut.
Panel pertama bertajuk “Subsea Connectivity as Strategic Infrastructure” menghadirkan Rinaldi Noor dari Komdigi, Marwan O. Baasir selaku Direktur Eksekutif ATSI, Alvin I. Aslam dari ASKALSI, Firman Ibnu Sina dari Tim Nasional Pengelolaan Penyelenggaraan Kabel Bawah Laut, serta Syarif Lumintarjo selaku Kabid IDNIC APJII.
Diskusi panel tersebut menyoroti tiga pilar utama yang dinilai menentukan pengembangan infrastruktur subsea regional, yakni people, technology, dan regulation.
Sementara itu, Panel 2 bertajuk “Strengthening the Digital Infrastructure Ecosystem” menghadirkan Eka Wahyuni, Deputy Executive Director ISD Council; Dion Kristadi Leksono, VP Product Infrastructure Orchestration Telin; Rohit Chopra, Network Investment Manager Meta; serta Leonard N. M. Sitohang, Senior Chief Engineer Submarine Division NEC Indonesia.
Panel ini membahas sejumlah faktor yang memengaruhi perkembangan infrastruktur digital regional, mulai dari posisi geopolitik Indonesia, kebutuhan hyperscaler, aspek komersial, hingga percepatan kesiapan talenta multidisiplin untuk menopang pertumbuhan ekosistem digital di kawasan APAC.
Adapun Panel 3 mengangkat tema “Talent Regeneration and Future Readiness” dengan menghadirkan Muhammad Aga, VP Submarine Business Planning Telkominfra; Aulia Ichwan, AVP Technology Infrastructure Partnership & Collaboration IOH; serta Prof. Akhmad Hambali dari Tel-U.
Panel tersebut menekankan pentingnya regenerasi talenta dengan kemampuan multidimensi untuk menjawab kebutuhan industri kabel bawah laut yang semakin kompleks.
Kompetensi yang dibutuhkan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga mencakup cableship management, troubleshooting, capacity planning, hingga kemampuan membangun resiliensi dalam menghadapi berbagai tantangan operasional di lapangan.
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti pelatihan dasar intensif yang dibimbing para pakar industri. Materi pelatihan mencakup anatomi sistem kabel bawah laut, siklus hidup proyek, proses perizinan, hingga manajemen operasional dan pemeliharaan jaringan subsea.
Melalui Connexus 2026, Tel-U bersama pemerintah dan pelaku industri berupaya memperkuat ekosistem kabel bawah laut yang tidak hanya tangguh secara infrastruktur, tetapi juga ditopang regulasi dan sumber daya manusia yang memadai.
Penguatan tersebut menjadi penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan posisi strategisnya di jalur konektivitas digital kawasan sekaligus menghadapi peningkatan kebutuhan kapasitas data dan layanan digital di masa mendatang.
Tel-U berharap program ini dapat melahirkan generasi muda dengan kompetensi yang relevan sehingga mampu mengambil peran lebih besar dalam memperkuat daya saing serta resiliensi infrastruktur digital Indonesia di kawasan Asia-Pasifik.
