KORANMANDALA.COM – Pengamat ekonomi Universitas Insan Cendekia Mandiri, Deni Rizky memberikan sorotan kepada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang turut memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Namun, hal tersebut masih perlu diperhatikan pihak mana yang menikmati pertumbuhan tersebut.
Deni mengatakan, alasan MBG memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan ekonomi lantaran program tersebut masuk ke dalam sektor akomodasi dan makan minum. Secara fakta di lapangan, ia memaparkan bahwa sektor tersebut memiliki laju pertumbuhan sangat tinggi hingga 17 persen.
“Sorotan utama memang berada pada sektor akomodasi dan makan minum. Salah satu faktor yang turut mendorong pertumbuhan sektor ini adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG),” kata Deni saat di hubungi Koran Mandala, Minggu (10/5/2026).
Menurutnya, spekulasi miring terhadap MBG yang dinilai tidak memberikan kontribusi ekonomi bisa ditepis dengan fakta tersebut. Sehingga anggapan itu tidak bisa dibenarkan secara penuh.
Meski demikian, ia menekankan perlu adanya perhatian lebih dengan MBG yang menjadi salah satu faktor penumbang pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Salah satunya adalah penelusuran terhadap siapa sebetulnya yang menikmati pertumbuhan tersebut.
“Program ini terbukti ikut menyumbang pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, perlu dilihat lebih lanjut siapa yang sebenarnya menikmati pertumbuhan tersebut,” ungkap dia.
Di sisi lain, hal serupa juga harus dilakukan kepada masyarakat guna mengetahui apakah pertumbuhan ekonomi yang disumbangsi MBG memberikan dampak positif kepada masyarakat. Khususnya, lanjut dia, dalam penyerapan tenaga kerja lokal.
“Bagaimana dampaknya terhadap masyarakat, terutama terkait penyerapan tenaga kerja serta kesejahteraan masyarakat bawah,” tutur Deni.
Terlebih, saat ini banyak pekerja yang terindikasi terkena PHK di Jawa Barat meskipun angka pengangguran di Jawa Barat menurun pada triwulan I 2026. Ia menjelaskan hal itu bisa dilihat dari banyaknya tenaga kerja yang justru diserap oleh sektor non formal dibandingkan formal.
“Berdasarkan data, penyerapan tenaga kerja saat ini lebih banyak terjadi di sektor nonformal dibanding formal. Hal ini bisa saja menunjukkan bahwa banyak pekerja yang terkena PHK akhirnya beralih menjadi pekerja serabutan atau berdagang kecil-kecilan demi bertahan hidup,” pungkas dia.
