KORAN MANDALA – Menyeruput kopi atau teh panas menjadi kebiasaan bagi sebagian orang, terutama pada pagi hari. Namun, minuman yang dikonsumsi dalam kondisi terlalu panas ternyata perlu diwaspadai.
Dokter sekaligus influencer kesehatan dr. Adam Prabata mengingatkan masyarakat untuk tidak terburu-buru mengonsumsi kopi atau teh ketika suhunya masih sangat tinggi.
Peringatan tersebut disampaikan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia mengaku mulai mengurangi kebiasaan minum minuman panas setelah membaca hasil penelitian mengenai kaitan konsumsi minuman panas dengan risiko kanker kerongkongan.
Penelitian tersebut berjudul Hot Drinks and Oesophageal Cancer: Prospective Analyses in Around 1 Million UK Adults. Riset itu disusun Keren Papier, Kezia Gaitskell, Sarah Floud, dan Gillian K. Reeves dari Cancer Epidemiology Unit, Nuffield Department of Population Health, University of Oxford.
“Gue berusaha mengurangi minum minuman yang masih panas setelah baca jurnal ini,” tulis dr. Adam, dikutip Kamis (17/9/2026).
Menurut dr. Adam, penelitian tersebut melibatkan lebih dari 900.000 orang dewasa. Para peneliti kemudian menganalisis kebiasaan konsumsi minuman panas dan membandingkannya dengan risiko kanker kerongkongan.
“Penelitian terbaru tahun 2026 ini melibatkan >900.000 orang dewasa kemudian dianalisis kebiasaan konsumsi minuman panasnya, kemudian dibandingkan risiko kanker kerongkongannya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, penelitian tersebut mendefinisikan minuman sangat panas sebagai minuman yang dikonsumsi pada suhu lebih dari 65 derajat Celsius. Jenis minuman yang diteliti yakni teh dan kopi.
“Definisi minuman sangat panas pada penelitian ini adalah diminum saat suhu >65 C. Jenis minuman pada penelitian ini adalah teh dan kopi,” lanjut dr. Adam.
Berdasarkan hasil penelitian, konsumsi teh atau kopi dalam kondisi sangat panas dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kerongkongan dibandingkan konsumsi ketika minuman sudah lebih hangat.
“Peningkatan risiko terkena kanker kerongkongan pada orang yang rutin minum teh atau kopi saat suhunya masih sangat panas (>65 C), dibandingkan dengan yang diminumnya saat suhu sudah hangat. Kanker kerongkongan pada kondisi ini yang meningkat adalah kanker sel skuamosa,” jelasnya.
Selain suhu, frekuensi konsumsi juga menjadi perhatian. Dalam penjelasannya, dr. Adam menyebut konsumsi minuman pada suhu lebih dari 65 derajat Celsius dikaitkan dengan peningkatan risiko hingga tiga kali lipat. Sementara konsumsi lebih dari enam cangkir per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko hingga 71 persen.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk memberikan waktu sebelum mengonsumsi kopi atau teh yang baru diseduh.
“Kesimpulan, rutin konsumsi minuman panas, apalagi yang sangat panas (>65 C) setiap harinya, berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya kanker pada kerongkongan,” ungkap dr. Adam.
Kopi dan teh tetap dapat dikonsumsi. Namun, masyarakat disarankan tidak langsung meminumnya ketika masih sangat panas dan menunggu hingga suhunya lebih hangat.
