ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Kram otot menjadi salah satu keluhan yang sering dialami saat maupun setelah berolahraga. Meski kerap dianggap hanya akibat kurang minum atau kelelahan, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Muhammad Fajri Adda’i menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan mekanisme kerja otot di dalam tubuh.
Mengutip penjelasannya melalui video di akun Instagram pribadi, dr Fajri mengatakan kram terjadi karena otot mengalami kontraksi yang berlangsung tanpa disadari atau di luar kendali tubuh.
”Jadi, dia berkontraksi sendiri gitu. Gak kita suruh, dia kontraksi involunter namanya,” kata dr Fajri, dikutip Minggu (19/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut umumnya dipicu oleh penggunaan otot secara berlebihan atau overuse. Akibatnya, sistem refleks di tulang belakang menjadi terlalu aktif sehingga otot terus berkontraksi meski tidak mendapat rangsangan.
Lebih lanjut, dr Fajri menjelaskan bahwa tubuh sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk mengatur kontraksi otot. Terdapat muscle spindle yang berfungsi memicu kontraksi, sementara organ tendon Golgi berperan menghambat kontraksi berlebihan.
”Nah, kalau sudah kecapean, over stimulasi, jadi organ tendon golgi nya ini nggak bekerja nih . Makanya lengkung refleksnya jadi over stimulasi. Jadi, kedut-kedut terus padahal nggak ada itu stimulasinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, risiko kram juga meningkat ketika seseorang berolahraga di lingkungan yang panas dan lembap. Kondisi tersebut membuat tubuh kehilangan lebih banyak cairan dan elektrolit melalui keringat sehingga fungsi otot dapat terganggu.
Karena itu, dr Fajri mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan diri berolahraga melebihi kemampuan tubuh serta memberikan waktu istirahat yang cukup agar otot dapat pulih secara optimal.
Selain menjaga intensitas olahraga, ia juga mengingatkan pentingnya memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit untuk membantu mencegah kram otot.
“Terus, cukupi hidrasi, pikirkan aspek panas, kelembaban udara supaya panas keluar, dan cukupi kebutuhan natrium, kalium, klorida, dan lain sebagainya. Itu yang penting. Jadi, pencegah lebih baik dibanding kena masalah,” Pungkasnya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






