KORANMANDALA.COM – Kebiasaan Generasi Z yang semakin gemar menghabiskan waktu di kedai kopi ternyata tidak hanya menjadi bagian dari gaya hidup modern. Dari sisi lingkungan, tren tersebut dinilai memiliki dampak yang lebih ringan dibandingkan budaya mengonsumsi minuman beralkohol. Penilaian itu didasarkan pada jejak lingkungan yang dihasilkan sepanjang proses produksi hingga distribusi setiap jenis minuman.
Praktisi bisnis lingkungan, Bang Sap, menilai tren minum kopi yang berkembang di kalangan Generasi Z memiliki jejak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan konsumsi minuman beralkohol. Menurutnya, setiap minuman memang memiliki dampak terhadap lingkungan, tetapi besar kecilnya tidak hanya ditentukan oleh produk akhir, melainkan seluruh rantai produksinya.
“Minuman apapun, kopi, bir, wine, punya jejak lingkungan masing-masing. Dan cara mengukurnya bukan dari produknya saja, tapi dari seluruh prosesnya, bahan baku, energi, kemasan, transportasi, sampai limbah akhirnya,” kata Bang Sap dalam unggahan video di akun Instagramnya, dikutip Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan, minuman beralkohol umumnya menggunakan botol kaca yang membutuhkan energi besar dalam proses produksi maupun distribusi. Selain itu, banyak produk alkohol yang diimpor sehingga memerlukan transportasi jarak jauh dan penyimpanan dengan suhu dingin.
“Sebagian besar diimpor dari jauh, lalu harus disimpan dengan dingin sepanjang jalannya, dari pabrik, gudang, sampai ke bar. Belum sempat dituang, jejak energinya sudah menumpuk,” tuturnya.
Sebaliknya, budaya minum kopi dinilai lebih ramah lingkungan karena umumnya diseduh langsung di lokasi dan disajikan menggunakan gelas yang dapat dipakai berulang kali. Bahan baku kopi juga banyak berasal dari petani lokal sehingga rantai distribusinya lebih singkat.
“Bandingkan dengan budaya kopi lokal, diseduh langsung di tempat, disajikan di gelas yang dipakai berulang, bahan bakunya pun banyak yang datang dari petani dalam negeri. Kopi memang punya dampak juga buat lingkungan, hanya saja rantainya jauh lebih pendek dan jauh lebih ringan,” tambah Bang Sap.
Selain aspek lingkungan, ia juga menyinggung dampak kesehatan dari konsumsi alkohol. Mengacu pada keterangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menurutnya tidak ada tingkat konsumsi alkohol yang benar-benar aman bagi kesehatan.
”Dari sisi kesehatan, WHO juga menyebut tidak ada level konsumsi alkohol yang benar-benar aman untuk kesehatan. Sementara dari sisi lingkungan, kajian life cycle assessment menunjukkan bahwa minuman itu tidak bisa dinilai hanya dari produknya, tapi dari seluruh prosesnya, bahan baku, energi, kemasan, transportasi, dan pola konsumsi,” jelasnya.
Bang Sap menilai perubahan menuju lingkungan yang lebih baik tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi juga dari perubahan kebiasaan sehari-hari yang dilakukan masyarakat, termasuk pilihan minuman yang dikonsumsi.
“Perubahan lingkungan yang besar seringkali bukan lahir dari kebijakan, melainkan dari kebiasaan kecil yang bergeser seperti gaya hidup Gen Z ini,” pungkasnya.

Homer Coffee, Destinasi Nongkrong “Kalcer” Baru di Jantung Braga
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.