KORANMANDALA.COM – Setelah melaksanakan salat Idul Fitri, umat Islam tidak hanya dianjurkan untuk bersilaturahmi, tetapi juga menjalankan sejumlah amalan sunnah yang memiliki nilai spiritual dan sosial.
Dosen sekaligus Dekan Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung, Asep Ahmad Siddiq, menjelaskan bahwa Rasulullah telah memberikan teladan terkait amalan yang dilakukan setelah salat Id.
Berikut beberapa anjuran sunnah yang dapat dilakukan setelah Idul Fitri:
1. Mengucapkan Tahniah (Ucapan Selamat)
Mengucapkan tahniah atau ucapan selamat hari raya merupakan amalan yang dianjurkan. Ucapan ini tidak sekadar formalitas, tetapi juga mengandung doa dan harapan kebaikan.
“Ucapan tahniah itu saling mendoakan, seperti Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima amalan kami dan kalian. Ini sudah dikenal sejak zaman sahabat dan diperbolehkan dalam Islam,” ujar Asep. Saat dihubungi Jum’at 20/3/2026
Tradisi ini juga diperkuat oleh riwayat dari Zubair bin Nufair yang menyebut para sahabat saling mengucapkan doa tersebut. Bahkan, Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa ucapan tersebut tidak mengapa dilakukan di hari raya. Selain itu, ucapan lain seperti Id Mubarak
2. Bersalaman dan Mempererat Silaturahmi
Setelah salat Id, umat Islam dianjurkan untuk saling bersalaman (musafahah) sebagai bentuk mempererat ukhuwah.
“Selesai salat, kita saling bersalaman sambil mengucapkan doa. Ini bagian dari silaturahmi dan saling mendoakan antar sesama” jelasnya.
Momentum Idul Fitri menjadi kesempatan penting untuk memperbaiki hubungan sosial, baik dengan keluarga, tetangga, maupun masyarakat luas.
3. Melewati Jalan Berbeda Saat Pergi dan Pulang
Sunnah lainnya adalah melalui jalan yang berbeda antara saat berangkat dan pulang dari tempat salat Id. Hal ini berdasarkan riwayat dari Jabir bin Abdullah yang menyebutkan bahwa Rasulullah melakukan hal tersebut.
“Ada hikmahnya, di antaranya agar lebih banyak tempat menjadi saksi amal kita. Selain itu, kita juga bisa bertemu lebih banyak orang sehingga memperluas silaturahmi” kata Asep.
Namun, ia menegaskan bahwa jika kondisi tidak memungkinkan, seperti akses jalan yang terbatas, maka tidak menjadi masalah.
Ia menambahkan bahwa esensi Idul Fitri adalah kebersamaan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Dengan menjalankan amalan-amalan sunnah ini, Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga momentum memperkuat nilai spiritual, sosial, dan kepedulian terhadap sesama.
