KORANMANDALA.COM –RA Miftahul Ulum terus mengembangkan berbagai program pendidikan yang memadukan pembelajaran akademik dan nilai-nilai keagamaan bagi anak usia dini. Salah satu program unik yang rutin digelar sekolah tersebut adalah Bazar Sholawat, kegiatan yang mendorong anak-anak menghafal dan melantunkan selawat dengan cara yang menyenangkan.
Kepala Sekolah RA Miftahul Ulum, Lia Juliah, mengatakan kegiatan tersebut biasanya dilaksanakan saat peringatan Maulid Nabi. Dalam kegiatan itu, anak-anak membaca atau menghafalkan selawat yang kemudian “ditukar” dengan hadiah berupa makanan maupun barang.
“Anak-anak membaca sholawat, lalu mereka bisa memilih hadiah yang tersedia di meja. Jadi bayarnya dengan sholawat,” ujar Lia.
Hadiah yang disediakan bervariasi, mulai dari makanan ringan hingga barang seperti payung atau pakaian, dengan nilai sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000. Tingkat kesulitan selawat juga menentukan jenis hadiah yang dapat dipilih anak.
Selawat yang lebih panjang dan membutuhkan hafalan lebih kuat biasanya ditukar dengan hadiah yang nilainya lebih besar. Bahkan untuk selawat tertentu, seperti selawat haji, hadiah yang disediakan bisa berupa payung atau barang lainnya.
Pelaksanaan Bazar Sholawat juga melibatkan kerja sama dengan koordinator kelas serta para donatur. Orang tua murid maupun masyarakat sekitar dapat menyumbangkan makanan atau barang yang kemudian dijadikan hadiah bagi anak-anak yang berhasil melafalkan selawat.
“Kami biasanya mengumumkan jauh hari sebelumnya agar anak-anak dan orang tua bisa mulai menghafalkan sholawat yang akan dibaca,” jelas Lia.
Selain program keagamaan, RA Miftahul Ulum juga menekankan penguatan kemampuan akademik siswa sejak dini. Sekolah yang berdiri sejak 1998 itu menargetkan seluruh siswanya sudah mampu membaca sebelum melanjutkan ke jenjang sekolah dasar.
Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap agar anak tidak merasa terbebani. Anak-anak mulai diperkenalkan dengan huruf sejak tingkat PAUD, kemudian mempelajari suku kata di kelas A, dan membaca kalimat sederhana saat berada di kelas B.
Tak hanya itu, siswa juga diajarkan menulis huruf sambung dengan metode khusus yang disusun berdasarkan tingkat kemudahan penulisan huruf, bukan berdasarkan urutan abjad. Metode ini dinilai membuat anak lebih mudah memahami proses menulis.
“Anak-anak di sini biasanya sudah bisa membaca koran dan menulis huruf sambung sebelum masuk SD,” kata Lia.
Ia menambahkan, pendekatan pembelajaran bertahap tersebut membuat siswa lebih nyaman belajar tanpa merasa tertekan.
Menurut Lia, metode pendidikan yang diterapkan selama ini juga berdampak pada keberhasilan para alumninya. Sejumlah lulusan RA Miftahul Ulum disebut mampu berprestasi saat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, bahkan ada yang menempuh pendidikan hingga tingkat doktor.
“Sejak tahun 1998 sampai sekarang, Alhamdulillah jumlah murid kami tidak pernah berkurang karena masyarakat melihat langsung hasilnya,” ujarnya.
Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut, lanjut Lia, sebagian besar berkembang dari rekomendasi antarorang tua. Banyak siswa yang datang dari berbagai wilayah di sekitar Bandung karena mengetahui kualitas pendidikan yang diberikan.
“Sekolah kami bukan hanya sudah diakreditasi oleh dinas pendidikan, tetapi juga seperti diakreditasi oleh masyarakat,” katanya.
