Rute Utama Metro Jabar Trans
KORAN MANDALA – Wacana perluasan layanan Transjabodetabek dari Blok M, Jakarta Selatan, hingga Kota Bandung dinilai tidak efektif.
Pasalnya, pilihan transportasi umum yang menghubungkan Jakarta dan Bandung saat ini sudah cukup beragam, mulai dari bus, kereta cepat Whoosh, hingga layanan travel.
Pengamat transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony Sulaksono, menilai penambahan trayek Transjabodetabek untuk rute Jakarta-Bandung bukan menjadi kebutuhan mendesak.
Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan pembenahan layanan transportasi umum di kawasan Jabodetabek yang masih membutuhkan perhatian.
“Kenapa harus tambah-tambah gitu. Nggak akan efektif, itu yang pertama. Yang kedua juga, kan titik Bandung dan Jakarta itu banyak, nggak bisa dilayani semuanya,” ujar Sony, Jum’at (30/10/2026).
Wacana tersebut mencuat setelah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membuka peluang perluasan layanan Transjabodetabek dari kawasan Blok M menuju Kota Bandung.
Sony menjelaskan, transportasi umum rute Jakarta-Bandung sudah memiliki banyak pilihan. Karena itu, penambahan layanan baru justru berpotensi membuat penyelenggaraan transportasi tidak efektif, terlebih titik keberangkatan dan tujuan di kedua kota tersebar di berbagai lokasi.
Dari sisi perizinan, Sony menyebut layanan transportasi yang melintasi wilayah Jakarta dan Bandung tidak lagi masuk kategori kewenangan angkutan antarkota dalam satu kawasan metropolitan. Operasionalnya membutuhkan perizinan lintas provinsi yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.
“Kenapa nggak sekalian saja Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Lampung. Sebenarnya, yang bagus itu kan kemarin itu Gubernur Jakarta sudah mau merancang bus air ya, melayani 10 ribu kawasan, itu sudah sangat bagus, kenapa nggak fokus saja ke situ,” katanya.
Menurut Sony, pengembangan transportasi umum sebaiknya diarahkan untuk menjangkau masyarakat yang belum mendapatkan akses memadai, khususnya di kawasan perbatasan Jakarta.
Ia menilai masih banyak wilayah di Jakarta yang membutuhkan peningkatan layanan transportasi umum. Karena itu, perluasan rute hingga Bandung dinilai bukan prioritas dibandingkan pembenahan layanan yang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
“Karena sudah banyak yang melayani Jakarta-Bandung, travel itu sudah hampir sekitar 30-an. Dengan banyak titik di Jakarta dan di Bandung, buat apa ditambah,” ucapnya.
Sony juga menyarankan agar Transjabodetabek tetap berfokus pada pelayanan di kawasan Jabodetabek. Jika ingin memperluas jangkauan, ia menilai wilayah Kepulauan Seribu dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan layanan transportasi.
“Masih banyak hal-hal yang harus perbaiki. Gak usah cari-cari layanan ke tempat lain lah. Fokus saja itu, kalaupun ingin mengembangkan, ya Pulau Seribu karena sangat berpotensi, biar masyarakat di sana merasa bahagia,” kata Sony.
Sementara itu, wacana tersebut juga mendapat tanggapan dari warga Bandung. Hendro Susilo (40), warga Tegallega, menilai transportasi Jakarta-Bandung yang tersedia saat ini sudah cukup memenuhi kebutuhan perjalanan masyarakat.
“Buat apa ada layanan itu?, transportasi umum rute Jakarta-Bandung maupun sebaliknya sudah banyak. Saya mending naik travel karena sudah terbiasa dan nyaman,” ujar Hendro.
Ia mengatakan, masyarakat saat ini relatif mudah mendapatkan transportasi untuk perjalanan Jakarta-Bandung maupun sebaliknya. Dengan kondisi tersebut, dirinya merasa belum membutuhkan tambahan layanan Transjabodetabek untuk rute tersebut.
“Sejauh ini masih cukup dan mudah mencari transportasi Jakarta-Bandung. Jadi kalau saya enggak perlu ada tambahan lagi,” katanya.