Ilustrasi keamanan siber
KORAN MANDALA –Praktisi senior sekaligus Sekretaris Umum Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Satriyo Wibowo, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya ancaman kejahatan digital dan penipuan online.
Berdasarkan data dari Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), wilayah Jawa Barat menempati peringkat pertama sebagai daerah dengan jumlah korban penipuan terbesar di Indonesia.
.Menurutnya, kerugian akibat penipuan digital di tengah masyarakat sangat bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah akibat tergiur investasi bodong maupun modus penipuan kerja fiktif.
“Berdasarkan informasi dari IASC milik OJK, Jawa Barat adalah nomor satu korban penipuan terbesar di Indonesia. Nomor satu!” ujar Satriyo Kamis (29/10/2026)
Beragam Modus Penipuan hingga Serangan Terarah (Targeted Attack) Satriyo menjelaskan, modus kejahatan cyber saat ini sangat beragam.
“Penipuan sekarang itu terarah, karena modus kejahatan cyber saat ini beragam dari mulai transaksi belanja di marketplace, panggilan palsu
(fake call), penyamaran identitas, investasi bodong, hingga rekrutmen pekerjaan palsu.” Katanya
Ia juga menyoroti bahaya pencurian data pribadi yang kerap mengincar para pencari kerja maupun pengguna aplikasi belanja online.
Bahkan, serangan siber tidak hanya menyasar masyarakat awam atau mahasiswa, melainkan juga para profesional hingga level pemegang kebijakan strategis di perusahaan maupun instansi.
“Serangan ke teman-teman di sini sama serangan ke level direksi, level komisaris BUMN, itu beda! Saya juga pernah dapat informasi, ‘Pak, saya dapat ini fake call, Pak.’ Padahal dia direktur IT. Bayangkan, level direktur IT bisa kena penipuan itu” ungkap Satriyo.
Kecepatan Pelaporan adalah Kunci Lebih lanjut, Satriyo membeberkan karakteristik ancaman digital yang memiliki pergerakan perpindahan dana yang sangat cepat.
Modus pelaku biasanya langsung memecah dan menyebarkan aliran dana curian dalam waktu singkat ke berbagai rekening penampung. Oleh karena itu, kecepatan pelaporan kepada pihak berwenang atau pusat pelaporan pengaduan seperti IASC menjadi faktor penentu utama.
“Karakteristik ancaman digital, perpindahan dana sangat cepat. Begitu uang masuk ke sini, tahu-tahu langsung dipisah, tahu-tahu terus disebar lagi, tahu-tahu terus ke mana-mana. Makanya IASC itu ada untuk mendeteksi itu. Problemnya adalah kalau Anda terlambat lapor, hilang. Jadi, kecepatan pelaporan itu jadi kunci. Melebihi 12 jam, dana sulit dilacak dan dibekukan.” Ungkapnya
Pentingnya Kebiasaan Keamanan Digital Dasar Sebagai langkah pencegahan, Satriyo berpesan kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap berbagai bentuk rekayasa sosial.
“seperti pesan singkat atau pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal yang memancing respons aktif (reaktif), serta pentingnya memperbarui (update) sistem operasi gawai secara berkala untuk menghindari celah keamanan dari instalasi berkas aplikasi berbahaya berformat” tuturnya