ilustrasi Bencana Banjir
KORAN MANDALA –Edukasi kebencanaan di Kota Bandung dinilai perlu disesuaikan dengan potensi risiko di setiap wilayah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung didorong tidak hanya berfokus pada ancaman banjir, tetapi juga memperkuat pemahaman masyarakat terhadap risiko gempa bumi, pohon tumbang, dan bencana lainnya.
Dorongan tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Christian Julianto Budiman. Menurutnya, pemetaan wilayah rawan bencana harus menjadi dasar dalam menentukan materi sosialisasi agar edukasi yang diberikan sesuai dengan ancaman yang dihadapi masyarakat.
“Di wilayah yang tidak memiliki riwayat banjir, misalnya, sosialisasi bisa diarahkan pada kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi. Masyarakat perlu memahami langkah perlindungan diri, seperti melindungi kepala, berlindung di bawah meja yang kokoh jika memungkinkan, serta menjauhi jendela kaca,” ujarnya.
Perwal Pesantren Segera Terbit, DPRD Bandung Sebut Kado Hari Santri 2026
Menurut Christian, kesiapsiagaan juga perlu dibangun melalui langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap keluarga, salah satunya menyiapkan tas siaga bencana berisi perlengkapan darurat.
Ia menegaskan, tas siaga tidak harus mahal atau bermerek. Hal terpenting adalah fungsinya untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar ketika terjadi keadaan darurat.
“Selain itu, masyarakat perlu mengetahui pentingnya menyiapkan tas siaga bencana berisi perlengkapan darurat,” katanya.
Christian menilai, pemetaan potensi bencana yang telah dilakukan BPBD Kota Bandung seharusnya menjadi acuan dalam menentukan sasaran dan pendekatan edukasi. Dengan begitu, warga di kawasan rawan banjir memperoleh pembekalan mengenai penanganan banjir, sementara masyarakat di wilayah dengan risiko berbeda mendapatkan materi yang relevan.
Ia juga menekankan pentingnya menggabungkan pengawasan dan edukasi. Upaya mitigasi, menurutnya, tidak akan berjalan optimal apabila masih terdapat perilaku masyarakat yang berpotensi memperburuk kondisi lingkungan dan meningkatkan risiko bencana.
Karena itu, penguatan mitigasi bencana di Kota Bandung perlu dilakukan sejak dini melalui kesiapan infrastruktur, pemetaan risiko, sosialisasi yang tepat sasaran, serta keterlibatan aktif masyarakat.
Untuk memperluas jangkauan edukasi, Christian mendorong kerja sama lintas sektor, termasuk dengan Dinas Pendidikan agar materi mitigasi bencana dapat disampaikan di sekolah. Perangkat daerah lainnya dan tokoh masyarakat juga dinilai memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi kebencanaan kepada warga.
“Untuk memperluas jangkauan edukasi, kami juga mendorong kerja sama lintas sektor, antara lain dengan Dinas Pendidikan agar materi mitigasi dapat disampaikan di sekolah, serta dengan perangkat daerah dan tokoh masyarakat untuk menyebarkan informasi kebencanaan,” tuturnya.
Christian berharap, pendekatan edukasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah dapat meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi bencana, sehingga warga tidak hanya mengetahui risiko, tetapi juga memahami tindakan yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.