Keramba Jaring Apung di Perairan Waduk Saguling. (bagus/koranmandala)
KORAN MANDALA – Langit mendung menggantung di atas Waduk Saguling dan Cirata. Angin dingin menyapu hamparan keramba jaring apung (KJA), tempat ribuan ikan mas dan nila dibesarkan dengan harapan menjadi sumber penghidupan para pembudidaya.
Namun, di balik tenangnya permukaan air, tersimpan ancaman yang selalu membayangi setiap musim penghujan: umbalan atau upwelling. Fenomena alam ini bisa mengubah harapan panen menjadi kerugian besar hanya dalam hitungan jam.
Bagi para pembudidaya ikan, ancaman tersebut bukan sekadar perubahan cuaca biasa. Ketika massa air dari dasar waduk bergerak naik ke permukaan, kondisi perairan dapat berubah drastis.
Perwal Pesantren Segera Terbit, DPRD Bandung Sebut Kado Hari Santri 2026
Kandungan oksigen terlarut bisa menurun, sementara senyawa hasil penguraian bahan organik yang menumpuk di dasar waduk berpotensi membahayakan kehidupan ikan.
Di tengah kondisi itu, ikan-ikan dalam petak keramba menjadi kelompok yang rentan. Jika kualitas air memburuk secara tiba-tiba, kematian ikan secara massal dapat terjadi dan menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
Ancaman berulang inilah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) meningkatkan kewaspadaan pembudidaya menjelang periode cuaca yang berisiko memicu umbalan.
Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti, mengingatkan para pembudidaya agar tidak menunggu kondisi perairan memburuk sebelum mengambil langkah antisipasi.
“Pembudidaya ikan, khususnya yang menjalankan usaha di keramba jaring apung perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca dan kondisi perairan. Langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini untuk meminimalisir risiko kematian ikan secara massal,” tegas Wiwin.
Peringatan tersebut dituangkan dalam Surat Imbauan Kesiapsiagaan Nomor 500.5.3/3593/Dispernakan/2026 tertanggal 9 Oktober 2026. Surat itu merupakan tindak lanjut atas arahan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui surat Nomor B.2832/DJPB.2/PB.220/X/2026.
Imbauan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan budidaya ikan di waduk tidak hanya ditentukan oleh kualitas benih, jumlah pakan, atau lamanya pemeliharaan. Kondisi lingkungan perairan juga memegang peranan penting, terutama ketika cuaca berubah dan keseimbangan massa air terganggu.
Umbalan umumnya berkaitan dengan perubahan suhu dan pergerakan massa air yang membawa air dari lapisan bawah menuju permukaan. Pada waduk yang menerima banyak masukan bahan organik, lapisan dasar dapat memiliki kandungan oksigen rendah serta menyimpan hasil penguraian sisa pakan dan kotoran ikan.
Ketika massa air tersebut naik, kualitas air di sekitar keramba bisa memburuk. Risiko semakin besar apabila kadar oksigen terlarut tidak mencukupi kebutuhan ikan.
Karena itu, perubahan cuaca, kondisi air, dan perilaku ikan perlu menjadi perhatian serius pembudidaya. Meski demikian, tanda-tanda yang terlihat di permukaan tidak selalu memastikan terjadinya umbalan. Pemantauan kualitas air tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi perairan secara lebih akurat.
Di tengah ancaman perubahan kualitas air, pengelolaan budidaya menjadi salah satu faktor yang dapat dikendalikan petambak.
Pemberian pakan yang tidak sesuai kebutuhan berpotensi menambah beban bahan organik di perairan. Sisa pakan yang tidak termakan akan terurai dan menggunakan oksigen, sehingga dapat memperburuk kondisi perairan yang sudah rentan.
Dispernakan KBB pun mendorong pembudidaya menyesuaikan pola pemeliharaan dengan kondisi cuaca dan kualitas air. Pengaturan jumlah pakan, penyesuaian kepadatan ikan, serta penggunaan aerasi apabila memungkinkan menjadi langkah mitigasi yang dapat dipertimbangkan.
“Penyesuaian kepadatan ikan, pengaturan pemberian pakan, dan penambahan aerasi apabila memungkinkan merupakan langkah yang perlu dipertimbangkan pembudidaya untuk mengurangi risiko saat kondisi perairan tidak mendukung,” lanjut Wiwin.
Langkah tersebut bukan jaminan bahwa kematian ikan dapat sepenuhnya dicegah. Namun, pengelolaan yang lebih cermat dapat membantu mengurangi tekanan terhadap ikan ketika kondisi perairan mengalami penurunan kualitas.
Pembudidaya juga perlu meningkatkan pemantauan terhadap kondisi air dan perilaku ikan, terutama ketika cuaca berubah drastis. Jika ditemukan indikasi penurunan kualitas air, langkah penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan dan hasil pengukuran.
Bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari keramba jaring apung di Saguling dan Cirata, ancaman umbalan bukan hanya persoalan lingkungan. Fenomena tersebut juga menyangkut keberlangsungan usaha, modal yang telah dikeluarkan, dan pendapatan keluarga yang bergantung pada hasil panen.
Ikan yang dipelihara selama berbulan-bulan merupakan hasil dari rangkaian investasi dan perawatan. Ketika kematian massal terjadi, kerugian tidak berhenti pada hilangnya komoditas, tetapi juga dapat mengganggu kemampuan pembudidaya untuk kembali memulai usaha.
Karena itu, imbauan pemerintah perlu diikuti kesiapsiagaan nyata di lapangan. Pembudidaya membutuhkan informasi yang mudah diakses, pemantauan kualitas air, serta koordinasi dengan petugas perikanan agar langkah penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Pada akhirnya, menghadapi umbalan bukan sekadar menunggu cuaca kembali membaik. Kewaspadaan harus dibangun melalui pengelolaan budidaya yang tepat, pemahaman terhadap perubahan kondisi perairan, dan respons cepat ketika risiko mulai meningkat.
Di atas hamparan air Saguling dan Cirata, harapan panen para pembudidaya terus bergantung pada keseimbangan alam. Ketika ancaman dari dasar waduk bisa datang tanpa banyak tanda, kesiapsiagaan menjadi salah satu kunci untuk menjaga ikan tetap hidup dan roda ekonomi masyarakat tetap berjalan.