ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA –DPRD Jawa Barat mendorong penggunaan metode sederhana dalam pengelolaan sampah di masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar edukasi yang dilakukan mahasiswa dapat lebih mudah diterapkan warga, khususnya di kawasan padat penduduk.
Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Tedy Rusmawan, mengatakan mahasiswa yang dilibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mengedukasi masyarakat perlu dibekali materi yang jelas dan terstandarisasi.
Menurut Tedy, kegiatan tersebut juga dapat diintegrasikan dengan program kuliah kerja nyata (KKN) maupun kuliah lapangan. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi, tetapi turut mendampingi masyarakat dalam menerapkan pengelolaan sampah.
ADVERTISEMENT
“Kita support dan juga kita dorong agar ada kejelasan terkait dengan materi yang disampaikan sehingga tepat, distandarisasi, dan juga tentunya didampingi oleh dosen-dosennya. Jadi, tidak hanya sekadar mahasiswa,” ujar Tedy, Minggu (4/10/2026).
Ia menilai kesadaran masyarakat untuk memilah sampah harus menjadi materi utama dalam edukasi. Setelah sampah dipilah dari sumbernya, masyarakat dapat dikenalkan dengan metode pengolahan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
“Yang paling penting kan kesadarannya dulu, memilah sampahnya. Terkait dengan metode di lapangan kan itu ada banyak metode,” katanya.
Tedy menyebut sejumlah metode pengolahan sampah organik yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat, seperti Loseda, Loseda Dapur, hingga pengolahan menggunakan maggot.
Namun, ia meminta mahasiswa tidak terlalu membebani masyarakat dengan metode yang rumit. Menurutnya, metode yang sederhana dan mudah diterapkan akan lebih efektif untuk mendorong perubahan kebiasaan warga.
“Kita dorong agar yang bisa diimplementasikan di masyarakat itu yang paling mudah dan paling sederhana saja,” ucapnya.
Khusus di Kota Bandung, Tedy menyebut metode Kang Empos dapat kembali diperkuat, terutama di kawasan padat penduduk. Metode tersebut memanfaatkan karung, ember, dan kompos untuk mengolah sampah organik dari rumah tangga.
“Di Kota Bandung sudah pernah disosialisasikan program Kang Empos, Karung, Ember, dan Kompos. Pernah di akhir 2024 itu menjadi program masif. Nah, itu sebetulnya cocok untuk di kawasan perkotaan,” ujarnya.
Tedy berharap gerakan mahasiswa tidak berhenti pada penyampaian materi edukasi. Ia mendorong mahasiswa turut membantu masyarakat menerapkan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
“Menurut saya, khususnya di kawasan kumuh dan padat di Bandung, metode yang paling memungkinkan itu Kang Empos yang sudah pernah dijalankan,” tuturnya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






