ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat mengingatkan dampak negatif media sosial dan media baru terhadap pola pikir generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z).
Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, mengatakan media sosial kini tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, edukasi, maupun menampilkan aktivitas pribadi. Paparan informasi yang tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis juga dapat memengaruhi cara generasi muda memahami berbagai persoalan.
Menurut Adiyana, perkembangan media digital telah diikuti munculnya berbagai persoalan, mulai dari disinformasi hingga kejahatan berbasis teknologi. Ia mencontohkan deepfake yang dapat menyasar masyarakat, termasuk perempuan.
ADVERTISEMENT
“Media sosial tidak hanya tempat bermain, mencari informasi, atau flexing. Tapi kini di Jawa Barat dan Indonesia, ada anak yang melawan orang tua, Gen Z merakit bom, hingga kejahatan deepfake yang marak menyasar perempuan. Relasi platform media ini sangat berkaitan langsung dengan kehidupan kita,” ujar Adiyana dalam kuliah umum di Universitas Kuningan, Kabupaten Kuningan, Selasa (2/10/2026).
Adiyana juga menyoroti penyebaran informasi yang belum terverifikasi, termasuk konten terpotong atau clipper, yang menurutnya dapat memengaruhi kondisi sosial di masyarakat.
Ia menyebut ketergantungan Gen Z terhadap media sosial sebagai sumber informasi juga terlihat dalam isu politik. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sebanyak 80,20 persen Gen Z mencari informasi politik melalui media sosial.
Namun, tingginya penggunaan media sosial sebagai sumber informasi juga diiringi keresahan terhadap hoaks. Adiyana menyebut angka keresahan masyarakat terhadap hoaks mencapai 77,37 persen.
“Dalam aspek politik, kawan-kawan Gen Z mencari informasi politik di media sosial mencapai 80,20 persen. Ketika mencari informasi di media sosial yang belum tentu terverifikasi dengan baik, maka ini yang menjadi masalah besar,” tegasnya.
Selain itu, Adiyana memaparkan bahwa dalam aspek ideologi, sebanyak 63,23 persen masyarakat cenderung pasif dalam melakukan verifikasi informasi.
Menurutnya, kemampuan memilah informasi menjadi penting karena informasi yang diterima tanpa proses verifikasi dapat memengaruhi pola pikir generasi muda yang diproyeksikan menjadi bagian dari sumber daya manusia Indonesia menuju bonus demografi 2030 dan Indonesia Emas 2045.
“Generasi hebat ini jangan sampai pada konteks sumber daya manusianya secara tidak disadari akan rusak karena dampak media sosial yang mempengaruhi proses berpikir. Informasi harus dilandaskan pada nilai-nilai sains, bukan sekadar hal yang dianggap benar padahal belum terverifikasi,” tutur Adiyana.
KPID Jawa Barat bersama kalangan akademisi kemudian membahas persoalan tersebut melalui pendekatan Panca Gatra yang mencakup ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
Pembahasan juga dikaitkan dengan tiga dimensi psikologi komunikasi, yakni kognitif, afektif, dan konatif.
Sementara itu, Rektor Universitas Kuningan, Anna Fitri Hindiana, mengapresiasi langkah KPID Jawa Barat memberikan edukasi langsung kepada generasi muda di lingkungan kampus.
Menurut Anna, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah menerima informasi yang beredar di media sosial.
“Saya mengapresiasi langkah KPID yang terus berupaya memberikan edukasi kepada generasi muda bahkan sampai turun langsung ke kampus. Ini sangat penting, apalagi generasi muda kita adalah pilar penerus bangsa. Jika kognisi mereka terpapar pemahaman yang tidak baik, apa jadinya bangsa kita nanti dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” pungkas Anna.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






