KORAN MANDALA – Trotoar di kawasan Gasibu, Kota Bandung, dinilai belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas. Meski secara visual terlihat baik, sejumlah bagian trotoar disebut masih menyulitkan pengguna disabilitas saat melintas.
Koordinator Wilayah Kopeka Bandung, Muhammad Fadhil, mengatakan persoalan tersebut terlihat ketika pihaknya bersama komunitas disabilitas melakukan kegiatan tamasya trotoar untuk melihat langsung aksesibilitas trotoar di kawasan Gasibu.
Menurut Fadhil, persoalan utama tidak hanya terletak pada tampilan trotoar, tetapi juga pada fungsi dan kemudahan akses bagi penyandang disabilitas.
“Trotoar Gasibu mungkin dalam visual mata terlihat bagus, dari segi estetika. Tapi dari segi fungsinya kurang bagi penyandang disabilitas” kata Fadhil saat dihubungi Koran Mandala Selasa (29/9/2026)
Ia menyoroti sejumlah aspek teknis, salah satunya keberadaan ramp yang menurutnya harus terhubung dengan permukaan aspal serta memiliki kemiringan yang sesuai agar dapat dilalui pengguna kursi roda maupun penyandang disabilitas lainnya.
Fadhil juga menyebut kemiringan pada jalur trotoar perlu memperhatikan aspek keselamatan. Pada bagian yang memiliki kemiringan memanjang, menurutnya, perlu disediakan pegangan untuk membantu penyandang disabilitas ketika melintas.
“Ramp itu harus menyatu dengan aspal. Dan kemiringan maksimal dari ramp itu 8 persen atau 4 derajat lebih. Di setiap adanya kemiringan memanjang, itu harus disediakan pegangan untuk rekan-rekan disabilitas” ujarnya.
Selain persoalan aksesibilitas, Fadhil mempertanyakan proses pembangunan dan revitalisasi kawasan Gasibu. Ia menilai hal tersebut perlu mendapat perhatian karena kawasan tersebut telah mengalami revitalisasi lebih dari satu kali.
Menurutnya, setiap pembangunan yang menggunakan anggaran publik semestinya memperhatikan aspek aksesibilitas sejak tahap perencanaan, bukan hanya mengutamakan tampilan fisik setelah proyek selesai.
“Gasibu ini sudah direvitalisasi hingga dua kali. Dan setiap revitalisasi pasti membutuhkan anggaran publik,” katanya.
Fadhil juga menyoroti keterbukaan informasi terkait proyek pembangunan di kawasan tersebut. Ia mengaku mempertanyakan dokumen perencanaan dan informasi publik mengenai proyek revitalisasi Gasibu.
“Untuk dokumen-dokumen perencanaan, keterbukaan informasi publik tentang proyek pembangunan ini, tidak ada sama sekali. Makanya kami menyoroti hal ini, apa sebenarnya yang terjadi di Gasibu ini”tutur Fadhil.

Trotoar di kawasan Gasibu, Kota Bandung, yang dinilai memiliki tampilan estetik, namun aksesnya disebut belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas. (Sarah/Koran Mandala)
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.