KORAN MANDALA – Cuaca panas yang belakangan kerap melanda tidak hanya membuat tubuh merasa gerah. Kondisi suhu yang tinggi juga disebut dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang, mulai dari lebih mudah tersinggung hingga munculnya emosi negatif.
Praktisi Bisnis Lingkungan, Bang Sap, menjelaskan kondisi tersebut dalam unggahan video di akun Instagramnya. Ia mengatakan, perubahan emosi saat cuaca panas tidak semata-mata berkaitan dengan karakter seseorang, tetapi juga dapat dipengaruhi kondisi lingkungan.
“Suhu udara yang panas ternyata bikin orang jadi gampang emosi. Kita sering menganggap marah, bete, atau gampang tersinggung itu murni soal karakter seseorang, kan? Padahal tanpa kita sadari, ternyata kondisi emosional kita dipengaruhi oleh kondisi iklim,” kata Bang Sap, dikutip Senin (28/9/2026).
Menurutnya, suhu panas tidak secara otomatis membuat setiap orang menjadi mudah marah. Namun, rasa tidak nyaman yang muncul ketika tubuh menghadapi suhu tinggi dapat menjadi salah satu pemicu meningkatnya emosi negatif.
Saat suhu udara meningkat, tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu internal tetap stabil. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih banyak berkeringat, cepat merasa lelah, hingga mengalami penurunan konsentrasi.
“Udara panas nggak otomatis bikin semua orang jadi mudah marah. Tapi suhu panas bisa membuat tubuh kita merasa tidak nyaman, dan ketidaknyamanan itulah yang bisa mendorong emosi negatif. Saat kepanasan, tubuh kita harus bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tubuh agar tetap stabil. Kita berkeringat, cepat lelah, konsentrasi menurun, dan rasa tidak nyaman pun menjadi naik,” ujarnya.
Dampak suhu panas juga disebut dapat berlanjut pada malam hari. Suhu yang tetap tinggi dapat mengganggu kualitas tidur sehingga proses pemulihan fisik dan mental menjadi kurang optimal.
Bang Sap turut mengutip studi yang disebutnya berasal dari JAMA Psychiatry di Amerika Serikat. Menurutnya, penelitian tersebut menemukan adanya kaitan antara hari dengan suhu ekstrem dan peningkatan kunjungan ke instalasi gawat darurat (IGD) dengan keluhan yang berkaitan dengan kesehatan mental pada sejumlah sampel rumah sakit.
“Kalau malamnya juga panas, kualitas tidur kita pun jadi ikut terganggu. Pada studi JAMA Psychiatry yang dilakukan di Amerika menemukan adanya kaitan antara kunjungan IGD di beberapa sampel rumah sakit. Ternyata pada hari panas ekstrem terjadi peningkatan kunjungan dengan keluhan berkaitan dengan gangguan kesehatan mental,” jelasnya.
Bang Sap kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan lingkungan tempat masyarakat tinggal. Ia menyoroti perbedaan kondisi suhu antara kawasan dataran tinggi yang cenderung lebih sejuk dan wilayah pesisir yang memiliki suhu lebih panas.
“Relate enggak sih sama kondisi di Indonesia? Warga yang hidup di dataran tinggi dengan cuaca yang lebih dingin, justru orang-orangnya lebih kalem, tenang, dan stabil secara emosi dibandingkan dengan masyarakat yang hidup di daerah pesisir,” ungkapnya.
Menurut Bang Sap, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya lingkungan perkotaan yang mampu mengurangi paparan panas. Ruang terbuka hijau (RTH), kawasan yang teduh, ventilasi bangunan, serta tempat kerja yang nyaman dinilai memiliki peran lebih luas daripada sekadar memperindah kawasan.
“Makanya, kota yang teduh, ruang yang hijau, bangunan dengan ventilasi baik, dan tempat kerja yang nyaman bukan cuma soal urusan estetika. Itu bagian dari infrastruktur kesehatan dan mental,” tuturnya.
Ia menambahkan, kondisi lingkungan dan suhu kawasan perlu menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan kenyamanan serta kondisi psikologis masyarakat.
“Jadi, kalau ada suatu negara yang orang-orangnya gampang tersinggung, bisa jadi karena alamnya banyak yang rusak dan suhunya jadi makin panas,” tuturBang Sap.
