KORAN MANDALA – Bupati Garut Abdusy Syakur Amin secara resmi melepas 28 PMI asal Garut dalam apel gabungan di Lapangan Sekretariat Daerah, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (28/9/2026).
Sebanyak 28 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Garut diberangkatkan ke Jepang untuk menempuh pendidikan sekaligus bekerja.
Mereka mendapat beasiswa dari Pemerintah Jepang sebagai bagian dari upaya membuka akses kerja bagi generasi muda Garut.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mengatakan, program tersebut menjadi salah satu strategi Pemkab Garut dalam menghadapi tantangan bonus demografi. Pasalnya, setiap tahun terdapat puluhan ribu pencari kerja baru yang masuk ke pasar tenaga kerja.
“Di satu sisi banyak anak-anak muda kita. Tapi di sisi lain kesempatan kerja di kita juga terbatas,” kata Syakur saat melepas 28 PMI dalam apel gabungan di Lapangan Sekretariat Daerah, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (28/9/2026).
Menurut Syakur, jumlah penduduk yang memasuki usia kerja di Garut mencapai sekitar 40 ribu hingga 50 ribu orang setiap tahun. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah perlu memperluas pilihan lapangan kerja, termasuk melalui kesempatan kerja di luar negeri.
“Setiap tahun ada penambahan orang masuk lapangan kerja kurang lebih 40 sampai 50 ribu,” ujarnya.
Selain mengirim tenaga kerja ke luar negeri, Pemkab Garut juga menjalankan sejumlah program untuk memperluas penyerapan tenaga kerja di daerah. Di antaranya program kewirausahaan Wirahebat, penguatan sektor pertanian, serta rencana pembangunan pabrik bioetanol.
Syakur menyebut Jepang menjadi salah satu negara yang membuka peluang bagi tenaga kerja asal Garut. Hal itu seiring kondisi Jepang yang mengalami penurunan populasi dan peningkatan jumlah penduduk lanjut usia.
“Itu kesempatan buat kita, akhirnya kita kirim ke sana, tentu saja ikut pelatihan dulu. Saya baca mereka ikut pelatihan bahasa Jepangnya,” katanya.
Salah seorang PMI asal Kecamatan Cikelet, Aisha, mengatakan dirinya telah menjalani pelatihan bahasa Jepang, kebudayaan, dan keterampilan keperawatan sebelum diberangkatkan.
“Pelatihannya dua bulan lebih. Untuk saya sekolah dulu baru kontrak kerja, di bidang perawatan lansia,” kata Aisha.
Aisha mengatakan, dirinya akan menjalani pendidikan bahasa selama satu tahun, dilanjutkan sekolah keahlian selama dua tahun dan kontrak kerja selama lima tahun. Ia akan ditempatkan di Kota Higashikawa, Hokkaido, Jepang.
“Macam-macam sih, ada yang di rumah sakit, ada yang di panti jompo, ada yang di day care. Saya di Kota Higashikawa, Hokkaido, Jepang,” ujarnya.
Dengan skema tersebut, Aisha memperkirakan total masa pendidikan dan kerja di Jepang mencapai sekitar delapan tahun. Ia berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh nantinya dapat dibawa pulang dan memberikan manfaat bagi masyarakat di tanah air.
