KORAN MANDALA – Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi di sektor pertanian.
Namun, tingkat penggunaan teknologi oleh petani di Kabupaten Garut masih relatif rendah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Ardhy Firdian, S.Hut., M.Si., mengakui pemanfaatan teknologi pertanian di Garut masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan.
Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, kata Ardhy, baru sekitar 40 persen petani di Garut yang memanfaatkan teknologi dalam kegiatan budidaya pertanian. Sementara sebagian lainnya masih mengandalkan metode manual.
“Kalau kaitan dengan teknologi, memang kita itu kalah jauh dengan Jepang atau Korea. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, masyarakat petani kita yang memanfaatkan teknologi itu baru sekitar 40,35 persen. Sisanya masih melakukan budidaya tani secara manual,” ujar Ardhy, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah karena tingkat pemanfaatan teknologi berkaitan erat dengan produktivitas pertanian yang hingga kini masih belum optimal.
“Memang itu salah satu yang menjadi PR kita, karena pemanfaatan teknologi ini akan sangat terkait dengan produktivitas pertanian yang masih perlu ditingkatkan dan belum optimal,” katanya.
Ardhy menjelaskan, semakin tinggi pemanfaatan teknologi dalam proses budidaya, peluang peningkatan produktivitas juga semakin besar. Namun, penerapannya masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dari sisi sumber daya manusia (SDM).
“Semakin tinggi pemanfaatan teknologi, produktivitas usaha budidaya pertanian itu akan semakin tinggi. Cuma kendalanya, pertama jelas faktor sumber daya manusia. Karena tidak bisa dipungkiri, dengan teknologi kita juga membutuhkan SDM yang cukup punya kemampuan,” ujarnya.
Selain keterbatasan SDM, persoalan modal juga menjadi kendala dalam penerapan teknologi pertanian. Meski demikian, Ardhy menilai kebutuhan yang saat ini lebih krusial adalah ketersediaan benih berkualitas.
“Yang kedua, jelas kalau ada kaitan dengan teknologi itu ada kaitannya dengan modal. Itu juga yang menjadi salah satu kendala di sektor pertanian kita. Kaitan dengan teknologi yang lainnya, saat ini yang krusial yaitu terkait dengan benih,” jelasnya.
Ia menilai peningkatan kualitas benih perlu menjadi perhatian karena dapat menjadi salah satu faktor utama dalam mendongkrak produktivitas pertanian.
“Secara umum kita memerlukan benih-benih yang punya kualitas bagus, baik benih tanaman pangan, hortikultura, maupun benih tanaman perkebunan. Itu salah satu yang bisa mendongkrak tingkat produktivitas sektor pertanian kita agar bisa lebih tinggi lagi,” pungkasnya.
