ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA –Uap panas mengepul dari tungku, bercampur dengan aroma kedelai rebus yang memenuhi ruang produksi sederhana di Desa Citapen, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (17/9/2026).
Sejak pagi buta, suara mesin penggiling terus meraung. Di tengah lantai semen yang basah dan panasnya tungku produksi, Asun (28) bergerak tanpa henti mengolah kedelai menjadi tahu.
Tangannya sibuk mengawal setiap tahapan produksi. Mulai dari memantau sari kedelai yang mendidih, memeras ampas, hingga menuangkan adonan putih ke dalam cetakan kayu yang telah dilapisi kain.
ADVERTISEMENT
Persib Datang ke Seoul dengan Masalah Fisik, FC Seoul Justru Waspadai Maung Bandung
Begitu adonan mengeras, pisau panjang kembali berayun. Tahu putih dipotong menjadi bagian-bagian kecil sebelum dicemplungkan ke dalam wajan besar berisi minyak panas.
Desisan minyak dan aroma gurih tahu goreng memenuhi ruangan. Namun, di balik aktivitas produksi yang tak pernah berhenti itu, pemilik usaha, Triani (30), justru tengah dihantui persoalan yang semakin berat: harga kedelai terus merangkak naik.
Margin Menipis, Untung Tergerus
Triani mengaku harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama usahanya kini mencapai sekitar Rp11.300 per kilogram. Padahal, beberapa waktu lalu harganya masih berada di kisaran Rp9.000 per kilogram.
Kenaikan sekitar Rp2.300 per kilogram tersebut langsung memukul biaya produksi. Bagi industri tahu rumahan seperti miliknya, kenaikan bahan baku bukan perkara kecil karena ruang untuk menaikkan harga jual sangat terbatas.
Di satu sisi, biaya produksi terus membengkak. Di sisi lain, Triani harus mempertahankan harga tahu agar tetap terjangkau bagi konsumen.
“Kedelai terus naik setiap hari, tapi saya enggak berani menaikkan harga tahu. Harganya tetap ada yang Rp250 sampai Rp500 per biji,” ujar Triani.
Ia khawatir kenaikan harga justru membuat pembeli mengurangi belanja. Kondisi itu pada akhirnya bisa lebih berbahaya bagi kelangsungan usahanya dibandingkan menahan keuntungan yang semakin tipis.
Dilema tersebut membuat Triani memilih bertahan dengan harga lama. Baginya, mempertahankan pelanggan menjadi bagian penting agar roda produksi tetap berjalan.
Padahal, kenaikan harga kedelai terus menekan margin keuntungan. Ia menyebut keuntungan usahanya kini tergerus hingga lebih dari separuh dibandingkan sebelumnya.
Tahu Citapen Menembus Pasar Bandung
Setiap hari, ratusan papan tahu hasil produksi Asun dan pekerja lainnya dikirim ke Pasar Sederhana, Kota Bandung.
Tahu produksi Citapen telah memiliki pelanggan tersendiri. Teksturnya yang lembut dengan cita rasa gurih membuat produk tersebut dipasarkan kembali oleh pedagang sayur maupun pelaku usaha makanan olahan di wilayah perkotaan.
Pasar lokal pun tetap menjadi bagian penting dari keberlangsungan usaha. Setiap pagi dan sore, warga sekitar datang membawa wadah masing-masing untuk membeli tahu goreng yang baru diangkat dari penggorengan.
Bagi warga, harga tahu yang masih terjangkau menjadi pilihan lauk untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun bagi Triani dan para pekerjanya, setiap tahu yang terjual berarti ada biaya produksi yang tertutup dan dapur usaha yang tetap bisa mengepul.
Di tengah kenaikan harga bahan baku, Triani kini berada di persimpangan. Menaikkan harga berisiko membuat konsumen pergi. Mempertahankan harga berarti harus rela menerima margin keuntungan yang semakin tergerus.
Ia berharap harga kedelai segera kembali stabil sehingga pengrajin tahu kecil seperti dirinya tidak terus berada dalam tekanan.
“Harapannya harga kedelai bisa turun dan normal lagi. Kalau terus naik seperti ini, kami yang usaha kecil semakin berat,” katanya.
Untuk saat ini, mesin penggiling tetap menyala, tungku tetap mengepul, dan pisau terus mengiris tahu. Namun di balik aktivitas produksi yang tampak sibuk itu, para pengrajin tahu Citapen sedang berjuang mempertahankan satu hal yang jauh lebih penting dari sekadar keuntungan
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






