ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA –Pembangunan underpass di Jalan Gatot Subroto (Gatsu), Kota Cimahi, mulai bersinggungan langsung dengan jejak sejarah kota.
Sebuah gardu listrik tua bergaya Art Deco yang berada di kawasan Taman Kartini harus digeser dari posisi semula karena berada di jalur pembangunan infrastruktur tersebut.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengonfirmasi kondisi itu saat meninjau kawasan proyek, Selasa (15/9/2026).
ADVERTISEMENT
Meski harus bergeser demi pembangunan underpass, pemerintah memastikan bangunan yang disebut sebagai cagar budaya tersebut tidak akan dibongkar atau diubah bentuk aslinya.
“Dampak pembangunan underpass terhadap bangunan heritage hanya kena di gardu listrik saja. Yang lain tidak,” tegas Ngatiyana, Selasa (15/9/2026).
Gardu listrik tersebut diperkirakan telah berdiri sejak dekade 1920-an, pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Bangunan ini dikaitkan dengan N.V. ANIEM (Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits-Maatschappij), perusahaan listrik swasta yang pernah beroperasi di Pulau Jawa.
Jejak arsitektur Art Deco masih terlihat pada bangunan tersebut. Denahnya berbentuk persegi dengan atap limas yang menggunakan genteng tembikar atau genteng plentong. Ornamen geometris pada dinding menjadi salah satu ciri yang memperkuat karakter arsitektur bangunan lama tersebut.
Kini, bangunan yang telah menjadi bagian dari wajah kawasan Taman Kartini itu harus berhadapan dengan kebutuhan pembangunan kota.
Underpass Jalan Gatot Subroto dibangun untuk mengurai persoalan lalu lintas di salah satu jalur penting Kota Cimahi. Namun, pembangunan tersebut memiliki konsekuensi terhadap struktur bersejarah yang kebetulan berdiri di area terdampak konstruksi.
Pemerintah memilih menggeser gardu, bukan merobohkannya.
Ngatiyana mengatakan proses tersebut akan dilakukan secara hati-hati agar struktur dan bentuk asli bangunan tetap dipertahankan.
“Pohon pada zaman Belanda masih ada, dan gardu yang merupakan cagar budaya itu tidak dirusak tetapi kita alihkan, atau kita geser, sehingga tidak mengurangi bentuk daripada cagar budayanya,” ujarnya.
Bukan hanya gardu, sejumlah pohon tua yang telah lama tumbuh di kawasan Taman Kartini juga disebut tetap dipertahankan.
Keputusan menggeser gardu tersebut menjadi titik penting dalam pembangunan underpass Gatsu.
Sebab, proyek yang ditujukan untuk menjawab persoalan lalu lintas kini harus berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan artefak yang merekam sejarah perkembangan Kota Cimahi.
Gardu itu memang tidak dihancurkan. Tetapi fakta bahwa bangunan bersejarah tersebut harus bergeser demi proyek modern menunjukkan satu persoalan yang tak bisa diabaikan: ketika kota terus bergerak maju, seberapa jauh jejak masa lalu bisa tetap dipertahankan di tempatnya?
Pemkot Cimahi berharap pembangunan underpass dapat meningkatkan kelancaran lalu lintas tanpa menghilangkan karakter historis kawasan Taman Kartini.
Tantangannya bukan sekadar menyelesaikan konstruksi, melainkan memastikan modernisasi kota tidak dibayar dengan hilangnya identitas sejarah.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






